Beritabanten.comPendidikan tinggi selama ini menjadi salah satu jalan utama masyarakat untuk memperbaiki masa depan. Namun, harapan tersebut mulai berhadapan dengan kenyataan ketika jutaan sarjana justru bekerja di bawah kualifikasi pendidikannya.

Temuan LPEM FEB UI dalam Labor Market Brief Juli 2026 yang dirilis 30 Juli 2026 mencatat sekitar 8 juta lulusan S-1 tidak bekerja sesuai bidang dan tingkat pendidikan yang dimilikinya.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam hubungan antara pendidikan tinggi dan pasar kerja. Jumlah lulusan terus bertambah, sementara penciptaan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka belum berkembang dengan kecepatan yang sama.

Sebagian sarjana akhirnya bekerja sebagai tenaga administrasi, sales, pekerja jasa, hingga pekerjaan rutin yang sebenarnya tidak membutuhkan pendidikan tinggi.

Bekerja tentu lebih baik daripada menganggur. Namun, ketika jutaan sarjana harus menerima pekerjaan di bawah kapasitasnya, persoalannya tidak lagi sekadar pilihan individu.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan relative deprivation, ketika harapan yang dibangun melalui pendidikan tinggi tidak sejalan dengan kenyataan yang diperoleh setelah lulus.

Selama bertahun-tahun, gelar sarjana dipandang sebagai tiket menuju pekerjaan lebih baik dan kehidupan yang lebih sejahtera. Ketika kenyataan yang ditemui justru pekerjaan berupah rendah atau tidak sesuai keahlian, muncul kesenjangan antara investasi pendidikan dan hasil yang diterima.

Narasi “yang penting bekerja dulu” pun menjadi semakin umum. Di satu sisi, kalimat tersebut merupakan bentuk realistis menghadapi kebutuhan hidup. Namun di sisi lain, jika terus dinormalisasi, kondisi bekerja di bawah kualifikasi berisiko menutupi persoalan struktural dalam pasar kerja.

Pendidikan tinggi akhirnya menghadapi tantangan besar. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga perlu memastikan kompetensi yang diberikan relevan dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.

Pemerintah dan dunia usaha juga memiliki tanggung jawab memperluas lapangan kerja produktif yang mampu menyerap tenaga berpendidikan tinggi.

Sebab, persoalannya bukan ketika seorang sarjana bekerja sebagai tenaga administrasi, sales, pedagang, atau pekerjaan lainnya. Tidak ada pekerjaan yang hina.

Yang menjadi masalah adalah ketika pendidikan tinggi tidak lagi mampu membuka ruang mobilitas sosial bagi mereka yang telah menginvestasikan waktu, biaya, dan harapan selama bertahun-tahun.

Indonesia tidak kekurangan sarjana. Yang menjadi pekerjaan rumah adalah menciptakan sistem ekonomi dan pasar kerja yang mampu memberi mereka tempat sesuai kapasitasnya.

Jika kesenjangan antara harapan dan kenyataan terus melebar, persoalan sarjana bukan lagi sekadar masalah pekerjaan, tetapi dapat berkembang menjadi persoalan kepercayaan terhadap pendidikan dan arah pembangunan nasional. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com