Beritabanten.com – Orang tua pada umumnya belajar tentang pola asuh dari pengalaman sehari-hari, lingkungan sekitar, hingga warisan kebiasaan dari generasi sebelumnya.

Namun, seiring perkembangan ilmu parenting modern, pendekatan terhadap tumbuh kembang anak kini tidak lagi bisa dilakukan secara seragam.

Setiap anak membutuhkan cara pengasuhan yang berbeda sesuai karakter dan tahap perkembangannya agar potensi mereka dapat tumbuh secara optimal.

Menurut Aisah Dahlan, yang menjadi pencerahmah pada Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah di Islamic Center Baiturahmi BSD, Serpong, Kota Tangsel, pada Rabu 24 Juni 2026, menjelaskan bahwa kunci utama dalam parenting adalah kemampuan orang tua untuk memahami karakter masing-masing anak sejak dini.

Ia menekankan bahwa setiap anak memiliki keunikan, termasuk yang dipengaruhi oleh perkembangan otak dan faktor jenis kelamin. Perbedaan ini kemudian memengaruhi cara anak berpikir, merespons, dan menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya.

Dalam penjelasannya, Aisah Dahlan menyebut bahwa anak laki-laki dan perempuan memiliki pola perkembangan otak yang berbeda.

Pada anak laki-laki, perkembangan otak kanan cenderung lebih dominan lebih awal, sehingga mereka lebih responsif terhadap aktivitas yang bersifat visual, gerak, dan permainan.

Sementara itu, anak perempuan memiliki perkembangan otak yang lebih seimbang antara sisi kanan dan kiri, sehingga lebih mudah menerima pembelajaran yang bersifat verbal maupun tulisan.

Perbedaan ini membuat pendekatan belajar sebaiknya disesuaikan, misalnya dengan menambahkan media visual bagi anak laki-laki agar proses belajar menjadi lebih efektif.

Namun, menurutnya, pola asuh tidak hanya berhenti pada cara mengajar. Nilai-nilai kehidupan justru lebih banyak terbentuk melalui proses pembiasaan dan komunikasi sehari-hari.

Orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan nilai melalui nasihat yang diberikan secara konsisten.

Nasihat yang diulang dengan cara yang tepat akan lebih mudah tertanam dalam ingatan anak, terutama di masa usia dini ketika daya serap mereka sangat tinggi.

Meski demikian, cara penyampaiannya perlu diperhatikan agar tidak berubah menjadi tekanan atau omelan. Untuk anak yang masih kecil, pendekatan cerita atau dongeng sering kali lebih efektif karena mampu menyampaikan pesan tanpa terasa menggurui.

Selain melalui ucapan, anak juga sangat kuat dalam meniru perilaku orang tua. Dalam banyak kesempatan, Aisah Dahlan menekankan bahwa anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.

Ia menggambarkan bahwa sebagian besar proses pembelajaran anak terjadi melalui pengamatan langsung terhadap lingkungan terdekat, terutama orang tua.

Karena itu, sikap, kebiasaan, dan cara berbicara orang tua sehari-hari akan menjadi contoh yang direkam dan ditiru oleh anak, terutama pada masa usia emas perkembangan mereka.

Seiring bertambahnya usia, terutama ketika anak memasuki masa remaja, tantangan dalam pola asuh pun ikut berubah.

Pada fase ini, anak mengalami perubahan emosional dan hormonal yang cukup signifikan, sehingga mereka membutuhkan ruang untuk didengar dan dipahami.

Dalam kondisi ini, orang tua tidak disarankan untuk langsung bereaksi atau memberikan penilaian ketika anak bercerita.

Sebaliknya, mendengarkan dengan penuh perhatian menjadi langkah penting untuk menjaga kedekatan emosional dan membangun kepercayaan anak kepada orang tua.

Aisah Dahlan juga mengingatkan pentingnya menjaga harga diri anak, terutama ketika memberikan teguran.

Ia menilai bahwa menegur atau memarahi anak di depan orang lain, apalagi di hadapan teman-temannya, dapat berdampak pada kondisi psikologis anak.

Rasa malu yang muncul di ruang publik dapat membuat anak menarik diri dan menutup komunikasi dengan orang tua.

Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah memberikan arahan secara pribadi agar pesan yang disampaikan tetap sampai tanpa melukai perasaan anak.

Dengan pendekatan yang penuh pemahaman, komunikasi yang hangat, serta keteladanan dalam keseharian, pola asuh yang diterapkan orang tua diharapkan dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, terbuka, dan matang secara emosional. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com