Penulis: Rodia Alfarozie, tingal di Cerebon.
Ada cara Allah menegur jam’iyah yang dicintai-Nya. Bukan dengan azab yang membinasakan, tapi dengan kegelisahan yang membangunkan.
Dan hari ini, kegelisahan itu bernama NU.
Di permukaan, jagat NU terlihat baik-baik saja. Panggungnya megah, sambutannya mewah, dan klaim kebesarannya gaduh. Tapi di kedalaman dada santri, ada rasa yang mengganjal. Ada sesuatu yang tidak selesai.
Ada isu dan dugaan yang beredar luas di ruang publik, yang menggetarkan Indonesia, tentang marwah Muktamar yang dikhawatirkan tercabik oleh dugaan praktik risywah. Tentang tas-tas yang dikabarkan beredar, tentang informasi yang belum terverifikasi yang menyebut ada yang dikabarkan sudah mengembalikan dan ada yang akan mengembalikan.
Semua itu masih berupa isu dan dugaan yang belum terverifikasi kebenarannya dan masih sangat membutuhkan tabayun serta klarifikasi resmi dari pihak yang berwenang.
Dan di tengah kegelisahan yang panjang itulah, sejarah selalu punya caranya sendiri untuk menghadirkan penawarnya. Ia tidak lahir dari istana. Ia lahir dari langgar.
Namanya HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy – Gus Lilur.
I. Membaca akarnya: dari langgar Situbondo 1825
Untuk membaca fenomena Gus Lilur, jangan baca jabatannya. Baca akarnya.
Akarnya menghujam di langgar tua Situbondo tahun 1825, sebagai cicit dari Kiai Raden Mas Su’ud, seorang ulama ahli tauhid dan kanuragan. Darahnya adalah darah santri pejuang yang tidak mengenal takut.
Batangnya tumbuh di rahim Pondok Pesantren Denanyar Jombang, salah satu rahim tertua NU. Di sanalah ia ditempa dengan satu mantra hidup yang ia pegang sampai hari ini: DABATUKA – Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan Untuk Kemanusiaan.
Karena mantra itulah, ia tidak hanya menaklukkan kitab, tapi juga menaklukkan bumi. Publik mengenalnya sebagai nahkoda BALAD Grup di perikanan Kangean, BARONG Grup di tembakau Bintang Sembilan, serta beberapa usaha di sektor tambang dan kepelabuhanan.
Inilah kunci untuk membaca keberaniannya: Ia mandiri, maka ia merdeka. Ia merdeka, maka ia menggelegar.
Orang yang hidupnya bergantung pada proposal, tidak akan berani melawan arus. Orang yang masih mengharap jabatan dari struktur, tidak akan pernah berani meneriakkan kalimat yang menjadi tauhid organisasinya: “Ber-NU tanpa Ber-PBNU.”
Kalimat itu bukan makar. Itu adalah pelurusan.
Ber-NU adalah berakidah Asy’ariyah, bermadzhab Syafi’iyah, bertasawuf dengan Junaid dan Ghazali. Itu abadi.
Ber-PBNU adalah soal struktur dan periode yang tidak abadi. Jangan pernah gadaikan yang abadi demi yang tidak abadi.
II. Membaca gelanggangnya: risalah di tengah badai Muktamar
Pasca Muktamar ke-35 di Tambakberas Jombang, ketika semua orang memilih diam agar terlihat bijak, Gus Lilur memilih bersuara agar NU tetap terjaga.
Ia melontarkan risalah digital yang mengguncang jagat: “NU, Gus Dur, dan Bromocorah Politik.”
Risalah itu bukan sekadar tulisan. Itu adalah sirine.
Di dalamnya, ia menyampaikan dugaan-dugaan yang beredar luas seputar Muktamar: dugaan adanya peredaran dana fantastis yang nilainya dalam risalah tersebut disebut-sebut mencapai ratusan miliar, termasuk dugaan adanya kendaraan yang membawa uang dari wilayah selatan Jakarta, serta dugaan adanya pencatutan nama pihak tertentu untuk mengintimidasi.
Penting untuk ditegaskan dengan penuh kehati-hatian: seluruh angka dan peristiwa yang disebut dalam risalah tersebut adalah versi dugaan yang disampaikan oleh Gus Lilur dalam risalahnya. Kebenarannya belum terverifikasi secara hukum dan masih sangat membutuhkan klarifikasi resmi serta pembuktian dari pihak yang berkompeten dan berwenang.
Esai ini hanya menceritakan kembali fenomena dari risalah tersebut sebagai sebuah kegelisahan publik.
Tapi keberanian untuk menyuarakan kegelisahan itu di saat semua orang bungkam, itulah yang membuatnya menjadi fenomena.
III. Membaca sufistiknya: tentang uang yang menangis
Untuk membaca mengapa ia begitu berani, kita harus membaca tasawufnya tentang uang.
Dahulu, Syaikh Junaid Al-Baghdadi didatangi seorang murid yang membawa sekantong uang.
“Guru, doakan aku jadi Mursyid, ini hadiahnya.”
Syaikh Junaid menatap uang itu lama dan berkata: “Dengarkan… Uang itu menangis.”
Murid itu terkejut. Syaikh melanjutkan: “Uang itu berkata: Aku diciptakan Allah sebagai pelayan, untuk membeli roti dan menolong fakir. Mengapa kau jadikan aku sebagai tuan untuk membeli marwah dan suara manusia? Jika aku dipakai untuk membeli suara, aku akan menjadi saksi yang membakarmu di hari kiamat.”
Begitulah hakikat risywah, jika dugaan itu benar terjadi. Ia bukan sekadar uang. Ia adalah uang yang menangis. Uang yang dilaknat.
Rasulullah SAW bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ
Gus Lilur menolak uang yang menangis itu. Ia memilih menjadi BANDAR KEMANUSIAAN.
Jika isu yang beredar adalah tentang dugaan uang dari atas untuk membeli suara dari bawah yang merusak marwah, maka apa yang dikenal publik dari Gus Lilur adalah sebaliknya: uang dari atas untuk mengangkat derajat bawah yang membangun marwah.
Bansos Jumat yang tidak pernah putus, beasiswa santri 3T, hingga ia dinobatkan sebagai Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif 2023.
Satu merusak, satu merawat. Milenial bisa membedakan.
IV. Membaca zamannya: titik keseimbangan yang sedang bergerak
Dan inilah puncak untuk membaca fenomena Gus Lilur yang paling jujur dan paling menggetarkan:
Siapa yang berani “ribut” sama sekelompok biangnya ahli ribut namun selalu bisa meredam gejolaknya sampai beberapa periode hingga nampak baik-baik saja.
Gus Lilur jawabannya. Terlihat aneh caranya, namun ya begitulah zaman bergerak….
Ini bukan sekadar soal baik buruk lagi, namun titik keseimbangan sedang bergerak.
Selama ini NU terlihat baik-baik saja bukan karena tidak ada gejolak, tapi karena ada sekelompok ahli yang sangat pandai meredam gejolak itu dari periode ke periode.
Luka tidak disembuhkan, hanya ditutup rapat dengan rapat-rapat formalitas dan foto bersama.
Gus Lilur adalah anomali yang ditakdirkan untuk merobek tutup itu.
Caranya terlihat aneh, bahasanya terlihat kasar, jalannya terlihat ugal-ugalan bagi mereka yang nyaman dengan cara lama. Tapi ya begitulah zaman bergerak.
Zaman tidak bergerak dengan cara yang sopan, zaman bergerak dengan cara yang jujur.
Ini bukan lagi sekadar soal siapa baik dan siapa buruk. Ini adalah soal sunatullah: titik keseimbangan sedang bergerak.
Anak-anak cahaya bertumbuh mendobrak kerusakan sistem lama dan pada saatnya di posisi semuanya bersinergi untuk dunia baru yang punya cara baru berbenah.
Selamat berjuang di masing-masing jalan.
Gus Lilur adalah anak cahaya pertama yang berani mendobrak. Ia bukan perusak, ia adalah bidan yang sedang membantu kelahiran zaman baru.
Zaman baru yang lebih transparan, lebih berani, dan tidak bisa lagi dibeli dengan uang yang menangis.
Insya Allah Islam Nusantara akan bercahaya lagi tak lama lagi.
Generasi tua yang baik-baik orangnya memang masih diam, namun sangat mungkin tak lama lagi juga akan bersuara di belakang mereka.
Karena diamnya generasi tua yang baik itu bukan karena ridho, tapi karena mereka sedang menunggu satu suara pemberani untuk memulai.
Dan suara itu kini telah dimulai dari Situbondo.
Alfatihah.
Hidup Gus Lilur. Hidup Santri. Hidup NU yang tak bisa dibeli. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan