Beritabanten.com – Kinerja Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tangerang Selatan terus memperlihatkan kenaikan grafik pendapatan setiap tahun.

Ini tidak terjadi seketika, tapi mengalami tantangan pada tahun 2024 dengan pendapatan tidak memenuhi target.

Setelah pada tahun 2024, BAZNAS Kota Tangsel yang mampu mengumpulkan Rp10 miliar yang belum memenuhi target Rp11 miliar, tapi pada tahun 2025 mampu melebihi jumlah yang ditergetkan.

Ketua Komisioner BAZNAS Kota Tangsel Mohammad Subhan menjelaskan, perubahan drastis pada tahun pada 2025 berupa target Rp17 miliar, tapi BAZNAS Tangsel justru membukukan perolehan Rp21 miliar.

“Capaian ini menciptakan surplus dan diikuti penyaluran yang seimbang hingga sisa dana (cash on hand) nol rupiah, menandakan seluruh dana tersalurkan,” papar dia.

Melihat pada grafik tersebut, pada tahun 2026 dengan target 21 miliar memungkinkan untuk terpenuhi karena berbagai terobosan pengelolaan terbukti bisa menggenjot pendapatan pada tahun 2025.

“Untuk 2026, BAZNAS Tangsel memasang target Rp21 miliar. Kami optimistis target tersebut realistis, berkaca pada pengalaman 2025 yang melampaui ekspektasi. Sumber ZIS paling dominan masih berasal dari zakat penghasilan dan zakat fitrah,” ujar alumnus Pondok Pesantren Daar El Qolam itu.

Sambung warga Kademangan, Kecamatan Setu bahwa ke depan, BAZNAS Kota Tangsel akan menggenjot infak dengan kolaborasi lintas lembaga.

Salah satu skema yang tengah dijajaki adalah kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Tangsel dengan menyasar siswa sekolah negeri dari SD hingga SMP. Skema awal yang dibahas adalah infak Rp2.000 per pekan.

“Jika berjalan, potensi dana disebut bisa mencapai Rp80 juta per pekan, meski hingga kini belum ditetapkan karena menunggu kepastian regulasi” tegas mantan Ketua KPU Tangsel.

Soal penyaluran, pendidikan menjadi program prioritas utama, disusul kesehatan, dakwah dan advokasi serta kemanusiaan dan ekonomi.

Di sektor ekonomi, BAZNAS Kota Tangsel menyalurkan bantuan gerobak dan modal usaha. Untuk pendidikan tersedia beasiswa dan bantuan pendidikan.

“BAZNAS Kota Tangsel juga menerapkan dua pendekatan penyaluran, yakni programatik dan temporer. Pendekatan temporer melayani mustahik yang datang langsung, seperti kebutuhan buku, seragam dan perlengkapan sekolah,” ia merinci.

Di sektor kesehatan, bantuan mencakup biaya operasional, kursi roda, alat bantu dengar, kaki palsu serta perangkat penunjang lainnya.

“Tentunya capaian 2025 patut diapresiasi, namun target ambisius 2026 dan rencana infak sekolah menuntut kepastian regulasi, transparansi, serta pengawasan ketat agar pengumpulan dan penyaluran tetap akuntabel dan tepat sasaran,” demikian dia menutup.

Terpisah, Ridwan (48) warga Ciputat Timur menyebut, Baznas Tangsel perlu menggali lebih luas potensi yang ada, bukan hanya sektor ASN yang mudah.

Kata dia, idealnya BAZNAS Kota Tangsel menyaaar ks ke sektor lain.

“Kalau hanya mengandalkan zakat penghasilan dari ASN itu sangat gampang. Yang sulit adalah bagaimana mampu menarik di luar itu untuk menyerahkan zakatnya ke Baznas Tangsel di tengah persaingan maraknya Lembaga Amil Zakat yang tumbuh subur di Tangsel. Faktanya mereka bisa survive,” ia melontarkan kritik(. Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com