Beritabanten.com – Artis Dinda Hauw berbagi pengalaman menarik tentang cara mendalami peran dalam sebuah film ternyata bukanlah hal yang mudah.
Dalam proyek film terbarunya, Yang Tersisa Hanya Cinta, Dinda mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami kesulitan untuk benar-benar melepaskan karakter yang ia perankan.
Bahkan, emosi yang ia rasakan saat syuting sering kali masih terbawa ke kehidupan sehari-hari.
“Setelah syuting, terkadang aku masih terbawa suasana dari karakter yang dimainkan. Jika adegannya penuh emosi, gaya bicaraku juga bisa ikut berubah, menjadi lebih tegas atau sedikit ngegas. Ini karena aku benar-benar mendalami peran,” ungkapnya, Minggu (9/2).
Dinda dan suaminya, Rey Mbayang, sudah beberapa kali bekerja sama dalam proyek film yang sama. Meski sudah terbiasa, mereka tetap menghadapi tantangan saat harus memerankan karakter dengan dinamika emosi yang intens.
“Saat membaca naskah, rasanya biasa saja. Tapi ketika mulai berakting di depan kamera, ternyata emosinya jauh lebih dalam dari yang dibayangkan. Kadang aku dan Rey sampai kaget sendiri dengan adegan yang harus kami jalani,” tuturnya.
Beruntung, Rey selalu mengingatkan Dinda bahwa apa yang terjadi di lokasi syuting hanyalah bagian dari pekerjaan dan tidak boleh terbawa ke kehidupan pribadi mereka.
“Rey sering mengingatkan, ‘Ini hanya akting, jangan sampai kebawa ke rumah.’ Kalau kami mulai terbawa suasana, kami langsung saling mengingatkan, ‘Ini hanya karakter, bukan diri kita yang sebenarnya,'” ujar Dinda sambil tersenyum.
Sejak menikah pada 2020, Dinda dan Rey telah membintangi beberapa film bersama. Tantangan terbesar bagi mereka adalah bagaimana menciptakan chemistry yang berbeda di setiap proyek, sehingga tidak terasa seperti mengulang cerita yang sama.
“Karena kami sudah sering beradu akting, tantangannya adalah membuat setiap karakter terasa unik. Kami ingin penonton merasakan sesuatu yang baru di setiap film,” jelasnya.
Dalam film Yang Tersisa Hanya Cinta, Dinda berperan sebagai Melati, seorang istri yang menghadapi berbagai tantangan dalam rumah tangga, mulai dari masalah ekonomi hingga tekanan karena belum memiliki anak.
“Melati adalah sosok perempuan yang kuat, tetapi di dalam dirinya ada banyak pergulatan batin. Dia harus menghadapi berbagai rintangan bersama suaminya, termasuk masalah keuangan dan keturunan,” terang Dinda.
Film ini menjadi pengalaman berharga bagi Dinda, terutama dalam membangun karakter yang emosional dan mendalam. (Sra)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan