Beritabanten.com – Usia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan kehamilan. Kehamilan pada usia terlalu muda maupun terlalu matang diketahui memiliki risiko lebih tinggi terhadap sejumlah gangguan kehamilan, salah satunya hamil anggur atau mola hidatidosa.
Hamil anggur merupakan kondisi ketika jaringan yang seharusnya berkembang menjadi plasenta justru tumbuh secara tidak normal. Kondisi ini pada awalnya kerap sulit dikenali karena gejalanya menyerupai kehamilan biasa, seperti mual, muntah, dan perut yang semakin membesar.
Dokter Spesialis Kandungan RS Sari Asih Karawaci, dr. Agus Hermawan, Sp.OG, menjelaskan, hamil anggur terjadi akibat kelainan genetik pada saat proses pembuahan. Jaringan trofoblas yang semestinya membentuk plasenta berkembang secara berlebihan hingga membentuk kumpulan jaringan menyerupai buah anggur.
“Penyebab hamil anggur dikarenakan kelainan genetik saat pembuahan, yang sering kali terjadi karena adanya kelebihan kromosom dari sperma atau kegagalan sel telur dalam memberikan kontribusi genetik yang cukup,” jelas dr. Agus, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, terdapat sejumlah kelompok perempuan yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami hamil anggur. Salah satunya adalah faktor usia, yakni perempuan yang hamil pada usia kurang dari 20 tahun atau 40 tahun ke atas.
Selain usia, risiko juga dapat meningkat pada perempuan yang sebelumnya pernah mengalami hamil anggur. Riwayat tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika merencanakan kehamilan berikutnya.
Faktor lain yang juga disebut berkaitan dengan kondisi tersebut adalah kekurangan nutrisi, terutama asupan asam folat dan karoten sebelum maupun pada awal kehamilan. Faktor genetik dan riwayat perkawinan sedarah juga perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan genetik.

Waspadai Gejala yang Tidak Biasa
Hamil anggur dapat menunjukkan gejala yang lebih berat dibandingkan kehamilan normal. Karena itu, calon ibu perlu memperhatikan perubahan tubuh, terutama apabila muncul keluhan yang tidak biasa atau semakin berat.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain mual dan muntah berlebihan, ukuran rahim yang lebih besar dibandingkan usia kehamilan, serta perdarahan dari vagina yang dapat berwarna cokelat maupun merah terang.
Pada kondisi tertentu, jaringan berbentuk seperti gelembung berisi cairan juga dapat keluar melalui vagina. Gejala semacam itu memerlukan pemeriksaan medis segera agar kondisi dapat diketahui dan ditangani secara tepat.
Hamil anggur yang tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi serius. Dalam kondisi tertentu, jaringan abnormal tersebut dapat berkembang menjadi penyakit trofoblastik ganas, termasuk koriokarsinoma atau kanker yang berasal dari jaringan plasenta.
Meski tidak seluruh kasus hamil anggur dapat dicegah, risiko dan komplikasinya dapat ditekan melalui persiapan kehamilan yang baik serta pemeriksaan sejak dini.

Pentingnya Merencanakan Kehamilan
Dr. Agus menyarankan perempuan yang merencanakan kehamilan untuk memperhatikan kecukupan gizi, termasuk asupan asam folat, serta melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada awal kehamilan juga penting dilakukan untuk memastikan perkembangan kehamilan dan mengetahui kondisi janin serta jaringan di dalam rahim.
“Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan jika mengalami gejala mencurigakan. Karena dengan deteksi dini dan penanganan yang cepat, hamil anggur dapat ditangani dengan baik tanpa menimbulkan komplikasi serius di masa depan,” ujar dr. Agus Hermawan.
Deteksi dini menjadi langkah penting karena gejala pada tahap awal dapat menyerupai kehamilan normal. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan penanganan yang sesuai. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan