Aktifitas di bidang sosial ekonomi saat ini tidak bisa dianggap sebelah mata mengingat perkembangan yang begitu pesat. Berbeda di era sebelum tahun 1990-an, di mana selain pemain atau penggiat sosial ekonomi ini jumlahnya masih sedikit dan terlebih penggiatnya masih didominasi oleh generasi senior.

Situasi ini sedikit banyaknya menguntungkan beberapa lembaga pada saat itu, dimana mengarah pada penguasaan pasar atau dengan kata lain ceruk kue masih didominasi oleh beberapa lembaga philantrophy saja sehingga persaingan tidak seketat saat ini.

Berbeda dahulu bila dibandingkan kondisi saat ini, kegiatan philantrophy baik yang konvensional maupun lembaga yang sudah mengenakan konsep Islam dalam penamaan dan prakteknya sudah seperti industri yang dikelola secara profesional dan modern kekinian.

Industri ini ibarat lembaga yang berparas cantik dan mulai banyak dilirik orang, industri ini banyak mencuri perhatian para profesional muda untuk menggelutinya berbeda kondisi saat di bawah tahun 1990-an.

Lembaga ini dipandang sebelah mata, kita harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada siapapun yang telah berjasa menghantarkan pada situasi kondisi kondusif saat ini guna membentuk ekosistim filantropi nasional terus berkembang.

Lambat laun lembaga-lembaga ini telah meninggalkan cara-cara klasik yang dalam menyampaikan program-program sosial, kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin guna meraih kepercayaan masyarakat. Cara-cara baru kekinian yang modern pada teknologi berbasis internet namun aman dari Aman Syar’i, Aman Regulasi dan Aman NKRI sudah masif digunakan oleh beberapa lembaga filantropi.

Sudah saatnya industri ini memikirkan prospek dan kiprahnya untuk jangka panjangnya, yakni: 5, 10 20 dan 40 tahun ke depan

“Di Balik Data dan Angka: Menguak Nilai Nyata Human Capital/ Sumber Daya Manusia di Organisasi/Perusahaan

Mengapa saya mengulas seperti di atas karena sekarang ada gebrakan besar di dunia pengukuran Human Capital. Bukan lagi omong kosong, tapi ini bener-bener real deal.

22 negara sudah duduk bareng, berdiskusi panjang lebar, dan pada akhirnya mereka mencetuskan panduan baru soal Pelaporan Modal Manusia (Human Capital) di bawah ISO (International Organization for Standardization). Hal ini seperti turning point untuk perusahaan yang masih tidak menjadi prioritas “ngeremehin” aset terbesar mereka ada pada SDM.

Penulis memberikan tips bahwa Benchmark diawali dari adanya pengelolaan SDM sebagaimana mestinya mereka membuat panduan yang jelas, membahas isu-isu krusial seperti keberagaman, gaji, pelatihan, leadership, sampe sumber data organisasi.

Semua itu dibuat agar perusahaan punya benchmark yang solid untuk mengukur hal-hal intangible dalam Human Capital. Jadi, jika ada yang masih membicarakan , “Orang adalah aset terpenting kita”, maka lembaga/ perusahaan dipaksa meletakan manusia di pusat organisasi.

Hal Ini semestinya bukan cuma omong kosong manis “lips service”, tetapi harus menjadi kenyataan dapat merubah cara berpikir mereka, mengevaluasi, dan melaporkan Human Capital kepada para investor/ donatur/ muzaki? Ini adalah kunci dalam mendapatkan growth yang sustainable dan cuan (maslahah) yang konsisten.

Masa lalu bisa dijadikan pelajaran namun sudah usang dan sudah tidak lagi “relevan”dalam prosesnya, sehingga saat ini.diperlukan cara-cara baru dalam prosesnya dan memberikan nilai tambah.

Dahulu, CEO bersama investor sangat “concern” di dalam menganalisa perkembangan usaha menggunakan rasio harga terhadap laba.

Di era 60-an sampai 90-an, seperti hubungan antara laba dan nilai pemegang saham keduanya dapat dikatakan seperti pasangan serasi, korelasinya sampai dengan 90%.

Akan tetapi semenjak tahun 90-an, hubungan itu seperti hubungan yang makin lama makin renggang (long distance relationship). Korelasi itu sekarang jatuh bebas ke bawah hingga 50%.

Jadi bisa kita bayangkan bahwa instrumen pengukuran keuangan yang tangible saja sudah mulai nampak kehilangan taringnya, bagaimana dengan aset yang intangible? Udah out of date, bro!, begitu kata anak jaman sekarang.

Masa Kini: Human Capital bukan hanya jadi obrolan semata di warung kopi atau (Omdo) Omong Doang (kata-kata plesetan)

Membicarakan Human Capital itu seperti membicarakan barang antik—susah dijual dan susah diukur. Banyak praktisi SDM mencobanya dan banyak pula yang menyerah di tengah jalan.

Di sinilah letaknya, kenapa perusahaan/ lembaga yang “‘invest” banyak dalam membangun SDM, akan tetapi mereka tidak langsung mendapatkan nilai tambah di mata mitra strategis?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tak ubahnya seperti duri dalam daging di perusahaan/ lembaga yang peduli dengan sumber daya manusianya. Akan tetapi meski demikian secara intuisi kita mengetahui bahwa perusahaan/ lembaga yang fokus ke Human Capital akan lebih “sustainable”.

Data merupakan kunci dalam membuka mata dan dalam rangka untuk mendapatkan Insight

Jawabannya? Adalah ada pada Data, semua tentang data SDM. Transparansi adalah kunci agar para muzaki/ donatur bisa melihat dengan jelas, bagaiimana perusahaan/ lembaga A dan B mengelola SDM mereka.

Hal ini tidak hanya untuk kepentingan pihak luar (mitra strategis) semata melainkan juga untuk para talenta yang sedang mencari perusahaan/ lembaga yang fair dan care sama mereka. Hal ini juga penting untuk pemerintah yang sedang mencari cara membuat penyesuaian supply-demand di pasar tenaga kerja.

Nah ini dia, kelebihan dari philanthrophy berbasis konsep Islam, seperti BAZNAS dan Dompet Dhuafa karena mereka telah terlebih dahulu menerapkan nilai-nilai kemuliaan sosial kemanusiaan sebagai bentuk penerapan nilai-nilai kesalehan sosial dan secara mutlak merupakan bagian dari upaya dalam memelihara “maqashid syariah”.

Di sinilah letak peran strategis SDM bagi philanthrophy Islam atau lembaga Amil (pengelola zakat, infaq dan sedekah) yang disebut juga dengan nama amilin dan amilat sebagai pembeda dengan lembaga philantrophy konvensional lainnya.

Konsep yang aman syar’i, aman regulasi dan aman NKRI juga jangan sampai ter- *disrupsi* dan hal Ini jangan dianggap ringan melainkan harus menjadi perhatian serius..

Sekedar info saja bahwa sekarang, kolaborasi antara Human Capital sudah mengajak Securities Exchange Commission (SEC) di AS untuk membuat peraturan resmi soal pelaporan Human Capital buat semua perusahaan yang terdaftar.

Ernst & Young dengan EPIC-nya sudah mulai global movement yang akan membuat kegemparan baru. Sekarang, makin banyak pemain besar di pasar keuangan sama akademisi yang mulai fokus ke Human Capital dengan memasukkan nilai-nilai kemuliaan sosial kemanusiaan. Mereka menyadari bahwa saat ini adalah masanya future game-changer.

Welcome to the New Era of Human Capital

Misal saja dimasa depan pengukuran Human Capital akan pasti berbeda. Contoh di dalam ISO 30414 sudah menyiapkan semua framework dan aturan mainnya. Indikator akan nampak dan membuat Human Capital jadi lebih gampang diukur, lebih transparan, dan yang paling penting, lebih dihargai.

Muzaki, donatur, mitra strategis, pemerintah, calon karyawan dan semua akan mendapatkan manfaat dari ini. Karena sekarang, nilai perusahaan/ lembaga tidak hanya persoalan pada angka-angka di laporan keuangan, akan tetapi juga persoalan bagaimana perusahaan/ lembaga mengelola manusianya.

Bisa kita bayangkan apabila lembaga philantophy dengan mudahnya mendapatkan kepercayaan dan mereka bisa membuktikan kepada muzaki/ donatur bahwa mereka punya SDM yang solid dan siap beradaptasi dengan perubahan. Tentu hal ini mendorong performance produktifitasnya akan semakin “kinclong”.

Sehingga tidak hanya “concern” pada model core bisnis aktifitasnya saja melainkani SDM juga wajib membantu perusahaan/ lembaga untuk “survive” dan bahkan “thrive” di masa depan.

Ini adalah masa depan harus diraih dari sekarang kalau tidak mau kita ketinggalan?

Gunakan Human Resource sebagai data science, Evidence Based HR atau People Analytics, atau perusahaan/ lembaga yang pusing untuk memilih model data arsitektur untuk data dalam HRIS atau Sistem Informasi Sumber Daya Manusia, maka ISO 30414 adalah pilihan yang tepat dengan 11 dimensi utama (kategori umum dan 58 metrik) sudah lebih dari cukup.

Selamat mencari dan mencoba, semoga dengan demikian akan menjadi benchmark

Penulis: Pimpinan BAZNAS Tangsel Deni Nuryadin.

 

 

 

 

 

 

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com