Beritabanten.com – Pancasila tidak lahir untuk sekadar diucapkan dalam upacara, dihafalkan di ruang kelas, atau terpampang di dinding sekolah. Ia seharusnya hidup dalam cara anak-anak muda memandang perbedaan, memperlakukan sesama, dan mengambil keputusan ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan bersama.

Pesan itulah yang mengemuka ketika Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas melantik Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kabupaten Serang masa bakti 2026-2030 di Flamengo Hotel Serang, Sabtu (8/8/2026).

Pelantikan itu bukan sekadar pergantian kepengurusan. Di balik seragam dan simbol yang dikenakan para anggota DPPI, tersimpan pekerjaan yang jauh lebih besar: menjaga agar Pancasila tetap memiliki tempat di hati generasi yang tumbuh di tengah perubahan zaman.

Najib Hamas berharap DPPI Kabupaten Serang mampu menjadi salah satu pilar persatuan dan kesatuan bangsa. Ia menilai membumikan nilai-nilai Pancasila bukan hanya tanggung jawab Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), tetapi membutuhkan kerja bersama pemerintah, sekolah, organisasi kepemudaan dan masyarakat.

“Kita merasa bersyukur dan mengapresiasi atas nama Pemerintah Kabupaten Serang, telah terbentuk dan dilantiknya DPPI Kabupaten Serang. Ini meneguhkan komitmen kami bahwa membumikan nilai-nilai Pancasila adalah bagian dari kolaborasi semua unsur,” ujar Najib.

Ada alasan mengapa generasi muda ditempatkan di garis depan.

Mereka adalah generasi yang akan menerima estafet bangsa ketika generasi hari ini mulai meninggalkan panggung. Mereka pula yang akan menghadapi Indonesia dengan tantangan yang mungkin jauh berbeda: derasnya arus informasi, perubahan teknologi, polarisasi sosial, hingga semakin mudahnya perbedaan berubah menjadi pertentangan.

Dalam keadaan seperti itu, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan.

Ia harus menjadi kompas.

Najib menekankan setidaknya ada tiga pesan penting yang perlu dibawa DPPI. Pertama, Pancasila harus dipahami sebagai ruh perjuangan dan kehidupan. Kedua, nilai persatuan harus diwujudkan melalui kepedulian dan kemauan untuk saling menguatkan. Ketiga, kolaborasi menjadi kebutuhan untuk membangun Indonesia yang semakin kuat dan maju.

Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya panjang.

Persatuan, misalnya, bukan berarti semua orang harus berpikir sama. Persatuan justru diuji ketika masyarakat berhadapan dengan perbedaan. Di situlah nilai Pancasila menemukan makna sebenarnya: apakah perbedaan menjadi alasan untuk saling menjauh atau justru menjadi kesempatan untuk belajar saling memahami.

Karena itu, DPPI Kabupaten Serang tidak hanya diarahkan menjadi simbol generasi Pancasila. Mereka diharapkan menjadi penggerak yang mampu membawa nilai-nilai tersebut keluar dari ruang seremoni dan masuk ke kehidupan sehari-hari.

Langkah awalnya akan dilakukan melalui roadshow ke sekolah-sekolah tingkat SMP sederajat yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Serang. Pemerintah Kabupaten Serang juga berharap Pemerintah Provinsi Banten dapat mendukung kegiatan serupa di tingkat SMA, SMK dan Madrasah Aliyah.

Sekolah menjadi ruang penting karena di sanalah karakter generasi muda dibentuk.

Bukan hanya melalui pelajaran, tetapi juga melalui pengalaman. Bagaimana seorang siswa menghargai temannya yang berbeda. Bagaimana mereka menyelesaikan perbedaan tanpa saling merendahkan. Bagaimana mereka mau membantu ketika ada teman yang kesulitan.

Hal-hal kecil semacam itulah yang sesungguhnya menjadi wajah Pancasila.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Serang Haryadi mengatakan keberadaan DPPI diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan kebangsaan sekaligus membantu pemerintah dalam menguatkan pengamalan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda.

DPPI, kata dia, akan menjadi perwakilan dalam menjalankan berbagai tugas yang berkaitan dengan penguatan wawasan kebangsaan.

Namun tantangan terbesar mungkin bukan membuat anak muda mengenal lima sila.

Tantangannya adalah membuat mereka memahami mengapa kelima sila itu penting.

Sebab hafalan bisa hilang setelah ujian. Tetapi nilai yang benar-benar dipahami akan melekat dalam perilaku.

Ketika seorang anak muda memilih menghargai perbedaan, di situlah Pancasila hidup.

Ketika ia menolak perundungan karena sadar setiap manusia memiliki martabat, di situlah Pancasila bekerja.

Ketika ia memilih bergotong royong daripada berjalan sendiri, di situlah Pancasila menemukan rumahnya.

Dan ketika ia menggunakan kebebasan dengan tetap menghormati hak orang lain, di situlah nilai kebangsaan menjadi nyata.

Karena itu, pelantikan DPPI Kabupaten Serang semestinya tidak berhenti pada seremoni. Ia adalah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk memastikan generasi muda tidak hanya mengenal Indonesia melalui peta, sejarah dan simbol-simbol kenegaraan, tetapi juga memahami alasan mengapa bangsa sebesar Indonesia harus terus dijaga persatuannya.

Najib Hamas berharap generasi muda memahami perjalanan kehidupan bangsa dan kelak menjadi bagian dari pilar penyangga persatuan dan kesatuan.

Harapan itu pada akhirnya bukan hanya ditujukan kepada para anggota DPPI.

Ia adalah pesan untuk seluruh generasi muda.

Bahwa Indonesia tidak akan bertahan hanya karena memiliki semboyan persatuan. Indonesia akan tetap kuat jika generasinya bersedia merawat persatuan itu setiap hari.

Di tangan merekalah Pancasila akan menemukan masa depannya.

Bukan di atas kertas.

Bukan hanya di podium.

Tetapi dalam kehidupan.(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com