Beritabanten.com — Penampilan pencak silat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, menjadi salah satu daya tarik tersendiri dalam kegiatan Car Free Day (CFD), Minggu pagi, 9 Agustus 2026.

Di tengah warga yang berolahraga, bersepeda, dan berjalan santai, sekelompok anak berseragam hitam tampak duduk rapi di badan jalan. Mereka merupakan siswa SMP dari sejumlah sekolah di wilayah Jabodetabek yang rutin berkumpul untuk berlatih, bertukar pengalaman, sekaligus menampilkan seni bela diri pencak silat.

Sebelum atraksi dimulai, suara komando terdengar mengingatkan para pesilat muda agar tetap waspada dan menjaga barisan.

“Awas, hati-hati. Tetap jaga barisan!” terdengar aba-aba dari komando.

Anak-anak tersebut kemudian menyesuaikan posisi. Jarak antaranggota diperhatikan agar tetap aman. Mereka merentangkan tangan untuk memastikan ruang gerak masing-masing cukup, kemudian kembali mengambil sikap siap.

“Siap!”

Dalam hitungan berikutnya, mereka serentak meneriakkan, “Pencak silat!”

Tabuhan kendang rampak khas Betawi kemudian menggema di tengah suasana pagi. Irama musik berpadu dengan gerakan tangan dan kaki para pesilat yang dilakukan secara serempak.

Jurus bertahan dan menyerang diperagakan dengan penuh konsentrasi. Sesekali suara komando kembali terdengar untuk menjaga ritme sekaligus memastikan barisan tetap teratur.

Atraksi tersebut sontak menarik perhatian warga yang sedang menikmati suasana CFD. Sejumlah warga yang awalnya hanya melintas memilih berhenti sejenak untuk menyaksikan para pesilat muda memperagakan kemampuan mereka.

Salah seorang pesilat, Ibay, siswa SMP 184 Cilandak, Jakarta, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi anak-anak pencinta pencak silat dari berbagai sekolah di Jabodetabek.

Menurut Ibay, berkumpul dan tampil bersama di ruang terbuka seperti Bundaran HI memberikan pengalaman berbeda dibandingkan latihan rutin di sekolah.

“Enak banget karena beda sekali dengan latihan di sekolah yang ruangannya terbatas. Di sini selain lebih luas, ada suasana keceriaan CFD,” ujar Ibay.

Bagi Ibay, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi kesempatan untuk tampil. Pertemuan itu juga menjadi ruang belajar karena para pesilat dapat melihat karakter gerakan teman-teman yang berlatih bersama guru atau perguruan berbeda.

Menurutnya, meski mempelajari jurus yang sama, setiap pesilat tetap memiliki ciri khas masing-masing.

“Meski satu jurus, pasti ada ciri khas, baik karena gurunya berbeda maupun tempat latihannya. Kita bisa lebih cermat melihat dan memperbaiki keterampilan serta jurus,” katanya.

Pertemuan rutin di CFD Bundaran HI pun menjadi semacam ruang belajar terbuka bagi para pesilat muda. Mereka tidak hanya berlatih, tetapi juga saling mengamati, bertukar pengalaman, dan mengenal beragam gaya pencak silat dari teman-teman mereka.

Di tengah ramainya aktivitas masyarakat pada Minggu pagi, keberadaan para pesilat muda tersebut menghadirkan warna tersendiri. Pencak silat yang biasanya identik dengan arena latihan tertutup, kali ini ditampilkan secara terbuka di ruang publik.

Jurus-jurus dimainkan dengan penuh semangat, berpadu dengan suara kendang dan riuh warga yang menikmati suasana CFD.

Sesekali, suara komando kembali mengingatkan mereka untuk memperhatikan jarak dan barisan.

“Awas, hati-hati. Tetap jaga barisan,” kembali terdengar.

Anak-anak itu pun segera merapikan posisi sebelum melanjutkan gerakan berikutnya.

Bagi mereka, Bundaran HI bukan sekadar lokasi tampil. Tempat tersebut menjadi ruang untuk menjaga tradisi pencak silat, mengasah keterampilan, sekaligus memperluas pertemanan sesama generasi muda pencinta bela diri tradisional Indonesia.

Atraksi akhirnya selesai. Setelah beberapa rangkaian jurus ditampilkan, para pesilat muda kembali mengambil posisi duduk untuk beristirahat sebelum melanjutkan aktivitas mereka di kawasan CFD. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com