Beritabanten.com – Di tengah meningkatnya aktivitas perkotaan dan ancaman polusi udara yang terus menjadi perhatian, keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) di kawasan Tangerang Selatan menjadi semakin penting. Salah satunya adalah ruang terbuka hijau di kawasan Perumahan Menteng Bintaro Jaya yang kini bukan hanya menjadi hamparan pepohonan, tetapi juga ruang singgah bagi masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan kerasnya kehidupan jalanan.

Pagi hari, ketika lalu lintas mulai padat dan asap kendaraan memenuhi udara kota, ruang terbuka hijau tersebut menghadirkan suasana berbeda. Rindangnya pepohonan memberikan tempat berteduh bagi pengemudi ojek online, pedagang kecil, dan warga yang membutuhkan ruang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Bagi Mustofa, seorang pengendara ojek online yang biasa mangkal di lokasi tersebut, ruang terbuka hijau memiliki arti lebih dari sekadar tempat singgah. Di tengah pekerjaannya yang membuatnya terus berada di jalan, kawasan hijau itu menjadi tempat untuk memulihkan tenaga dan menikmati udara yang lebih segar.

“Ngojek itu kan banyak hisap asap dan lainnya, jadi butuh relaksasi dengan berteduh dan menghirup udara bersih,” ujarnya.

Setiap hari para pengemudi ojek online menghadapi paparan asap kendaraan, debu, panas matahari, serta padatnya lalu lintas. Jalan raya menjadi sumber penghasilan, tetapi sekaligus menjadi ruang yang menguras fisik. Kehadiran ruang terbuka hijau memberi mereka kesempatan untuk berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan mencari penumpang.

Sebelum ramai dimanfaatkan seperti sekarang, kawasan tersebut sempat dikenal sebagai area yang relatif sepi. Minimnya aktivitas warga membuat lokasi itu terasa lengang, bahkan pernah muncul kekhawatiran setelah hampir terjadi aksi pembegalan di kawasan tersebut.

Namun perlahan, wajah kawasan itu berubah. Kehadiran pengemudi ojek online, pedagang kopi keliling, dan warga yang beraktivitas membuat area yang sebelumnya sunyi menjadi lebih hidup. Keramaian yang muncul tidak hanya menciptakan ruang interaksi sosial, tetapi juga menghadirkan rasa aman karena semakin banyak aktivitas warga yang berlangsung di sana.

Mustofa mengatakan, soal teguran dari petugas keamanan kawasan, para pengemudi memahami kondisi tersebut. Menurutnya, aturan tetap harus dihormati, meski keberadaan mereka juga menjadi bagian dari dinamika kawasan.

“Kita ngertiin kalau disuruh pergi berarti dia lagi diminta komandan motoin, mungkin buat laporan. Nanti juga pada menyemut lagi,” katanya sambil tersenyum.

Pengamatan media pada Senin pagi, 27 Juli 2026, menunjukkan ruang terbuka hijau di kawasan tersebut ramai oleh pengemudi ojek online dan pedagang kopi keliling. Mereka memanfaatkan area rindang itu sebagai tempat beristirahat sebelum kembali menjalankan aktivitas masing-masing.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau perkotaan memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar estetika lingkungan. RTH berperan sebagai penyerap karbon, pengurang suhu panas perkotaan, daerah resapan air, sekaligus ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Di tengah pertumbuhan kota yang semakin cepat, keberadaan ruang terbuka hijau menjadi bagian penting dari upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kualitas hidup warga. Pepohonan yang tumbuh di tengah kawasan padat bukan hanya menghasilkan oksigen, tetapi juga menghadirkan ruang bagi manusia untuk beristirahat dan merasa lebih dekat dengan alam.

Bagi Mustofa dan para pekerja jalanan lainnya, ruang terbuka hijau bukan sekadar tempat berteduh. Tempat itu adalah ruang kecil untuk mengambil napas di tengah tekanan kota yang terus bergerak.

Dari kawasan yang dulu sunyi dan sempat membuat warga waswas, kini ruang terbuka hijau tersebut tumbuh menjadi ruang yang hidup. Sebuah pengingat bahwa di tengah polusi dan kepadatan perkotaan, pepohonan dan ruang hijau masih mampu memberikan sesuatu yang paling dibutuhkan manusia: udara, ketenangan, dan rasa aman. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com