Beritabanten.com – Realisasi penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) hingga semester I 2026 tercatat sebesar Rp380 triliun atau sekitar 38,18 persen dari target APBN 2026 yang mencapai Rp995,28 triliun. Capaian tersebut menjadi perhatian di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga yang masih membayangi perekonomian nasional.
Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan aktivitas belanja masyarakat belum pulih sepenuhnya. Indeks Penjualan Riil (IPR) mengalami penurunan, sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga melemah meski masih berada pada level optimistis.
Perlambatan konsumsi berpengaruh langsung terhadap penerimaan pajak berbasis konsumsi. Ketika transaksi pembelian barang dan jasa menurun, penerimaan negara dari PPN dan PPnBM ikut terdampak sehingga realisasinya bergerak lebih lambat dibanding target yang telah ditetapkan.
Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengatakan pemerintah tidak akan mengejar target penerimaan dengan memberikan tekanan tambahan kepada masyarakat maupun pelaku usaha. Menurutnya, Direktorat Jenderal Pajak akan mengoptimalkan pemanfaatan sistem Coretax, memperkuat pengawasan kepatuhan, serta memperluas basis pajak untuk menjaga penerimaan negara.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah masih melihat peluang dari sejumlah sektor industri yang menunjukkan pertumbuhan positif, di antaranya tekstil, petrokimia, dan pakan ternak. Peningkatan impor bahan baku pada sektor-sektor tersebut diharapkan mampu mendorong aktivitas produksi dan mendukung penerimaan pajak pada paruh kedua tahun 2026.
Konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, menjaga daya beli masyarakat dinilai tetap menjadi faktor penting agar aktivitas ekonomi terus bergerak dan penerimaan negara dapat terjaga secara berkelanjutan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan