Beritabanten.com – Ketika konflik di Timur Tengah mencuat dan Selat Hormuz ditutup oleh otoritas Iran, Indonesia mengklaim sudah mengantisipasi gangguan pasokan energi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, memastikan bahwa pemerintah telah mengalihkan impor komoditas minyak dan gas (migas) dari kawasan tersebut.

Dalam konferensi pers daring dari Seoul, Selasa (31/3/2026) malam, Bahlil menegaskan bahwa meski minyak mentah masih berasal dari Timur Tengah, produk bahan bakar minyak (BBM) tidak diimpor dari kawasan itu sehingga tidak terdampak langsung oleh penutupan jalur laut di Teluk Persia.

Sekitar 20 persen impor liquified petroleum gas (LPG)sebelumnya memang berasal dari Timur Tengah. Namun, begitu ketegangan mencuat, pemerintah segera mencari sumber pasokan alternatif, termasuk dari Amerika Serikat.

“Insyaallah, enggak ada masalah. Sumber baru sudah kita dapat,” kata Bahlil.

Ia tidak merinci negara lain selain AS sebagai pengganti, hanya menegaskan bahwa pasokan migas tetap aman.

Bahlil juga menyinggung kapasitas domestik. Fasilitas Refinery Development Master Plan (RDMP di Kilang Balikpapan mampu memproduksi sekitar 5,6 juta kiloliter bensin dan 4,5 juta kiloliter solar.

Dengan kapasitas ini, impor ke depan diproyeksikan lebih banyak dalam bentuk minyak mentah, sementara produk olahan seperti BBM akan sebagian diproduksi di dalam negeri dan sebagian diimpor dari negara Asia Tenggara.

Data dari Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas menunjukkan bahwa pada 2025, impor minyak mentah Indonesia bersumber dari berbagai negara: Nigeria 25 persen, Angola 21 persen, Arab Saudi 19 persen, Brasil 9 persen, Australia 8 persen, serta Gabon, AS, dan Malaysia.

Untuk impor BBM, Singapura dan Malaysia menjadi kontributor utama, dengan tambahan pasokan dari China, Korea Selatan, Oman, UEA, India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.

Di tengah kekhawatiran global soal pasokan energi, klaim Bahlil hadir sebagai penegasan bahwa Indonesia telah menyiapkan strategi mitigasi.

Pemerintah menekankan bahwa langkah diversifikasi sumber energi menjadi kunci agar konsumsi domestik tetap aman, meski jalur perdagangan internasional menghadapi gangguan.

Selat Hormuz yang memisahkan Teluk Persia dan Samudra Hindia, menjadi sorotan dunia saat ini. Penutupan jalur laut oleh Iran memicu kekhawatiran global terhadap kelangsungan ekspor minyak.

Namun bagi Indonesia, skema pasokan yang telah disusun sedini mungkin diyakini cukup untuk menjaga stabilitas pasokan migas, mengurangi ketergantungan pada satu kawasan, dan memastikan harga BBM tetap terkendali.

Dengan kebijakan ini, Indonesia mencoba membaca dinamika geopolitik global sambil menjaga kebutuhan energi nasional tetap lancar.

Meski ancaman eksternal mengintai, pemerintah meyakini strategi diversifikasi, kombinasi produksi dalam negeri, dan impor dari negara alternatif mampu menjaga keseimbangan pasokan energi nasional. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com