Beritabanten.com – Ada pertandingan yang berakhir ketika skor terakhir berbunyi. Namun, ada pula pertandingan yang menyisakan cerita jauh lebih panjang daripada angka di papan skor. Final beregu putra bulu tangkis Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi salah satunya.

Indonesia sempat berada dalam situasi sulit setelah kehilangan dua partai awal. Skor 0-2 untuk China membuat jalan menuju medali emas terasa semakin berat. Namun, para pemain Merah Putih memilih tidak menyerah dan perlahan membalikkan keadaan.

Alwi Farhan menjadi pembuka kebangkitan Indonesia. Ia berhasil merebut kemenangan dan memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2. Harapan kembali tumbuh setelah sebelumnya sempat berada di titik yang nyaris padam.

Momentum itu kemudian dijaga Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin. Pasangan Indonesia tersebut mampu mengatasi lawannya dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Lima partai yang semula seperti akan berakhir pahit akhirnya harus ditentukan melalui pertandingan terakhir.

Di partai penentuan, Moh Zaki Uba?

idillah atau Ubed memikul tanggung jawab besar. Ia menghadapi Weng Hongyang dalam laga yang tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga ketenangan menghadapi tekanan.

Ubed menjawab tantangan tersebut dengan permainan yang tenang. Ia berhasil memenangkan pertandingan dua gim langsung, 23-21, 21-13. Begitu poin terakhir didapatkan, para pemain dan ofisial Indonesia langsung merayakan kemenangan yang telah lama dinantikan.

Indonesia menang 3-2 atas China.

Kemenangan itu sekaligus mengakhiri penantian panjang selama 28 tahun untuk kembali merebut emas beregu putra bulu tangkis Asian Games. Terakhir kali Indonesia meraih emas pada nomor tersebut adalah pada Asian Games 1998 di Bangkok.

Ada makna lain di balik kemenangan tersebut. Emas kali ini tidak lahir dari perjalanan yang mulus. Indonesia justru harus lebih dahulu tertinggal 0-2 sebelum menemukan jalan untuk bangkit.

Dari kondisi tertinggal itulah mental para pemain diuji. Satu kemenangan membuka peluang, kemenangan berikutnya menyamakan kedudukan, sebelum partai terakhir menentukan apakah perjuangan panjang itu berakhir dengan kegembiraan atau kembali menjadi penantian.

Alwi, Leo, Daniel, dan Ubed kemudian menjadi bagian penting dari cerita tersebut. Mereka bukan hanya membawa Indonesia melewati lima pertandingan, tetapi juga membawa harapan yang telah menunggu selama hampir tiga dekade.

Bagi olahraga, angka 28 tahun mungkin hanya sebuah catatan waktu. Tetapi bagi mereka yang mengikuti perjalanan bulu tangkis Indonesia, rentang itu adalah sebuah penantian panjang. Ada pergantian generasi, perubahan pasangan, naik turunnya prestasi, serta harapan yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kini penantian itu selesai.

Emas tersebut datang melalui sebuah comeback yang dramatis. Indonesia tertinggal 0-2, tetapi mampu bangkit dan menutup final dengan kemenangan 3-2.

Pada akhirnya, yang dikenang bukan hanya siapa yang menang. Lebih dari itu, adalah bagaimana kemenangan tersebut diperjuangkan. Ketika keadaan tidak berpihak dan harapan mulai menipis, para pemain Merah Putih tetap bertahan sampai pertandingan benar-benar selesai.

Setelah 28 tahun menunggu, emas itu akhirnya kembali ke Indonesia. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com