Beritabanten.com – Jelang pelaksanaan Muktamar Muktamar NU ke-35, tokoh muda Nahdlatul Ulama, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, mengingatkan agar forum tertinggi organisasi tersebut tidak bergeser menjadi arena perebutan kepentingan politik dan kekuasaan.

Ia menegaskan, muktamar harus kembali pada fungsi utamanya sebagai ruang pemurnian arah organisasi sekaligus penjaga keutuhan bangsa.

Gus Lilur menilai pengalaman pada Muktamar NU ke-34 Lampung menjadi pelajaran penting yang tidak boleh terulang.

Menurutnya, proses pemilihan yang diwarnai tarik-menarik kepentingan saat itu memunculkan konflik internal, perpecahan, hingga menyeret organisasi pada persoalan hukum dan dinamika politik praktis.

“Muktamar ke-34 Lampung harus jadi pelajaran pahit yang tidak boleh dilupakan. Salah memilih pemimpin dampaknya bisa fatal bagi NU,” ujarnya.

Ia menambahkan, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi besar dengan basis umat yang luas memiliki tanggung jawab moral di tengah situasi global yang tidak stabil serta tantangan kohesi sosial di dalam negeri.

NU, kata dia, tidak boleh kehilangan peran sebagai penyangga moral bangsa dan harus tetap berada di garda depan menjaga persatuan Indonesia sebagai bagian dari pendiri republik.

Dalam konteks itu, Gus Lilur mengaitkan semangat yang harus dibawa ke muktamar dengan nilai-nilai yang tercermin dalam Piagam Jakarta.

Ia menilai sikap para tokoh Islam yang merelakan perubahan rumusan demi menjaga keutuhan bangsa sebagai contoh kenegarawanan yang relevan dijadikan pijakan moral dalam menentukan arah kepemimpinan NU ke depan.

“Itu bukan soal kalah atau menang, tapi soal mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok,” katanya.

Lebih jauh, ia menyatakan pemimpin NU yang terpilih nantinya harus mampu menjadi bagian dari kekuatan penjaga stabilitas nasional, termasuk mendukung keberlanjutan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.

Menurutnya, duet tersebut dipandang sebagai simbol penyatu berbagai kelompok yang sebelumnya mengalami polarisasi politik dan ketegangan sosial, sehingga NU harus berada dalam posisi yang mendukung konsolidasi demi kepentingan yang lebih besar.

Gus Lilur juga mendorong Nasaruddin Umar menjadi Ketua Umum PBNU serta Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam.

Ia menilai keduanya memiliki kapasitas akademik dan pengalaman keulamaan yang dapat memperkuat posisi NU di tingkat nasional maupun global.

Di sisi lain, ia mengkritik fenomena yang ia sebut sebagai “gus-gus nanggung”, yakni figur yang menggunakan identitas kesantrian sebagai legitimasi sosial tanpa kedalaman keilmuan yang memadai, lalu memanfaatkannya untuk kepentingan politik. Menurutnya, NU harus waspada agar tidak menjadi kendaraan bagi ambisi personal yang menjauh dari nilai-nilai keulamaan.

Ia menegaskan, Muktamar NU ke-35 merupakan ujian sejarah bagi seluruh peserta, khususnya para kiai dan ulama, untuk menentukan arah organisasi ke depan.

Pilihan yang diambil akan menentukan apakah NU kembali pada khittah sebagai penjaga umat dan bangsa, atau semakin terseret dalam arus kepentingan kekuasaan yang pragmatis. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com