Beritabanten.com – Amerika Serikat dan Iran resmi membuka jalan menuju normalisasi hubungan setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian, Rabu (18/6). Menariknya, penandatanganan dilakukan di dua lokasi berbeda namun terhadap dokumen yang sama.

Trump membubuhkan tanda tangan di Istana Versailles, Prancis, sesaat sebelum menghadiri jamuan makan malam yang digelar Presiden Prancis Emmanuel Macron. Sementara itu, Pezeshkian menandatangani dokumen serupa di Teheran.

Momen penandatanganan Trump diunggah Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino melalui akun media sosial X. Menurut Scavino, dokumen diterima terlebih dahulu oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelum ditandatangani Presiden Trump.

“Ini merupakan momen penting dalam sejarah,” tulis Scavino dalam unggahannya.

Di Teheran, kantor berita resmi Iran, IRNA, merilis foto yang menunjukkan Presiden Pezeshkian memegang dokumen berbahasa Persia yang telah memuat tanda tangan kedua pemimpin negara.

Seorang pejabat AS menjelaskan, setelah Trump menandatangani dokumen di Prancis, pemerintah AS mengirimkan salinan dokumen tersebut kepada pihak Iran. Pezeshkian kemudian membubuhkan tanda tangannya sehingga MoU resmi berlaku.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan proses finalisasi dokumen telah dilakukan secara elektronik. Karena itu, rencana seremoni penandatanganan bersama di Jenewa, Swiss, dibatalkan.

MoU setebal sekitar 800 kata tersebut memuat 14 poin kesepakatan yang menjadi dasar penghentian sementara operasi militer kedua negara. Kesepakatan juga mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pelonggaran bertahap sanksi terhadap Iran, pembahasan program nuklir Teheran, serta pembentukan kerangka negosiasi menuju perjanjian damai permanen dalam 60 hari ke depan.

Pakistan yang berperan sebagai mediator selama konflik menyatakan kesepakatan mulai berlaku efektif sejak ditandatangani kedua kepala negara.

Meski demikian, Washington dan Teheran menegaskan MoU tersebut belum dapat dianggap sebagai perjanjian damai final. Sejumlah isu strategis masih akan dibahas dalam putaran perundingan lanjutan sebelum kesepakatan permanen dapat diwujudkan.

Langkah ini dinilai sebagai terobosan diplomatik terbesar dalam hubungan AS-Iran dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus membuka peluang meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com