Beritabanten.com – Kampus Universitas Gadjah Mada atau UGM mengantarkan Ketua BEM UMG, Tiyo Ardianto, pada puncuk gunung dealektika mutakhir dengan menyisakan pertanyaan mendasar: mengapa yang diserang justru orangnya, bukan gagasannya?
Dalam tradisi demokrasi dan kehidupan kampus yang sehat, kritik adalah hal biasa. Mahasiswa memiliki hak, bahkan kewajiban moral, untuk menyampaikan pandangan, mengoreksi kebijakan, dan menyuarakan aspirasi masyarakat.
Karena itu, ketika seorang aktivis mahasiswa menyampaikan sikap kritis, respons yang semestinya muncul adalah dialog dan perdebatan gagasan, bukan serangan personal.
Perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika intelektual. Namun ketika kritik dibalas dengan upaya mendiskreditkan individu, mengungkit hal-hal di luar substansi persoalan, atau membangun opini yang menyerang karakter seseorang, maka ruang diskusi publik kehilangan kualitasnya. Yang tersisa hanyalah kebisingan yang menjauhkan publik dari pokok masalah.
Tiyo Ardianto boleh saja dianggap keliru. Tiyo Ardianto juga tidak kebal terhadap kritik. Sebagai pemimpin organisasi mahasiswa, setiap pernyataan dan sikapnya tentu terbuka untuk diuji, dipertanyakan, bahkan dibantah. Akan tetapi, bantahan yang sehat seharusnya dilakukan dengan data, fakta, dan argumentasi yang kuat.
Serangan personal justru sering kali menimbulkan kesan bahwa pihak yang menyerang tidak mampu menjawab substansi kritik yang disampaikan. Alih-alih menjelaskan persoalan, energi publik habis untuk memperdebatkan individu yang menyampaikan kritik tersebut.
Kampus seharusnya menjadi benteng kebebasan berpikir. Dari kampus lahir tradisi intelektual yang menghargai perbedaan pandangan.
Jika mahasiswa mulai takut bersuara karena khawatir menjadi sasaran serangan pribadi, maka yang terancam bukan hanya satu orang mahasiswa, melainkan iklim demokrasi akademik itu sendiri.
Karena itu, siapa pun yang berbeda pandangan dengan Tiyo Ardianto sebaiknya fokus pada pokok persoalan. Jika ada argumen yang dianggap lemah, patahkan dengan argumen yang lebih kuat.
Jika ada data yang dianggap keliru, luruskan dengan data yang benar. Itulah cara berdebat yang beradab dan mencerdaskan publik.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan soal membela atau menyalahkan Tiyo Ardianto. Yang lebih penting adalah menjaga agar ruang publik tetap menjadi arena pertarungan ide, bukan arena pembunuhan karakter.
Sebab ketika seseorang diserang karena suaranya, demokrasi kehilangan salah satu fondasi terpentingnya: kebebasan untuk berbeda pendapat. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan