Beritabanten.com — Suasana Bundaran Pamulang, Tangerang Selatan, Jumat (23/10/2026), tampak sibuk. Kendaraan bermotor hilir mudik, memenuhi ruas jalan yang menjadi salah satu titik pertemuan arus lalu lintas di kawasan tersebut. Di tengah hiruk-pikuk itu, sekelompok pesepeda justru terlihat sibuk dengan persiapan berbeda. Mereka memeriksa sepeda, merapikan perlengkapan, dan bersiap menempuh perjalanan menuju Pantai Carita, Banten.

Sebanyak 15 anggota Persaudaraan Federal Tangerang Selatan atau Petasan berkumpul untuk mengikuti family gathering sekaligus touring. Di bawah komando Pak Wiryo, rombongan yang terbentuk sekitar empat tahun lalu itu kembali mengayuh sepeda, menyusuri jalan demi jalan untuk menikmati perjalanan bersama. Anggotanya beragam, mulai dari mereka yang sudah pensiun hingga yang masih aktif bekerja.

Bagi komunitas ini, perjalanan bukan semata-mata soal seberapa jauh kayuhan membawa mereka. Ada persaudaraan yang ingin terus dirawat, ada kesehatan yang hendak dijaga, dan ada kegembiraan sederhana ketika bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang yang memiliki kegemaran serupa.

Namun, perjalanan dengan sepeda di tengah padatnya lalu lintas Tangerang Selatan bukan perkara ringan. Jalanan yang ramai menuntut pesepeda lebih waspada, terlebih ketika harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor yang melintas silih berganti.

“Tangsel katanya kurang ramah untuk pesepeda, apalagi pada jam sibuk sekarang ini. Kita harus hati-hati saja agar tidak terjadi kecelakaan,” kata Pak Wiryo kepada wartawan di Bundaran Pamulang, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, kehati-hatian menjadi modal utama bagi pesepeda ketika melintasi jalan raya. Mereka harus mampu menjaga jarak, mengendalikan kecepatan, dan tetap tertib meski kondisi jalan tidak selalu memberikan kenyamanan bagi pengguna sepeda.

Pak Wiryo juga berharap pemerintah mempertimbangkan penyediaan jalur khusus sepeda. Menurut dia, keberadaan jalur tersebut dapat memberikan ruang yang lebih aman bagi pesepeda, terutama pada pagi hari ketika aktivitas masyarakat mulai meningkat dan lalu lintas semakin padat.

Meski demikian, ia bersyukur rombongannya sejauh ini belum pernah mengalami kecelakaan. Pengalaman itu membuat mereka semakin memahami pentingnya menjaga sikap selama berada di jalan.

“Ya, sementara ini belum ada insiden. Mudah-mudahan tidak terjadi insiden. Paling kita harus sabar dan tertib saja,” ujarnya.

Di antara sepeda-sepeda yang berjajar di Bundaran Pamulang, terselip sepeda Federal keluaran era 1980-an. Bagi sebagian orang, sepeda lawas mungkin hanya mengingatkan pada masa lalu. Namun, bagi para penggemarnya, sepeda tersebut memiliki daya tarik tersendiri, mulai dari desain klasik hingga nilai nostalgia yang melekat padanya.

Pak Wiryo menyebut sepeda Federal yang digunakan anggota komunitasnya sudah tidak lagi diproduksi. Meski tergolong sepeda lawas, nilainya masih cukup tinggi di kalangan penggemar sepeda tua. Harga unit yang digunakan untuk touring itu bisa mencapai sekitar Rp5 juta.

“Ini tahun-tahun jadul, yang sudah tidak diproduksi lagi. Harganya lumayan, sekitar Rp5 jutaan. Relatiflah untuk kebutuhan touring, sepeda seperti ini sudah cukup,” katanya.

Nilai sepeda itu bukan hanya terletak pada harga. Ada cerita, pengalaman, dan kecintaan terhadap kayuhan yang membuat sepeda tua tetap bertahan di tengah perkembangan teknologi kendaraan modern. Bagi komunitas Federal, sepeda menjadi penghubung antara hobi, kesehatan, dan pertemanan.

Karena itu, Pak Wiryo mengajak masyarakat Tangerang Selatan yang menyukai sepeda tua maupun jenis sepeda lainnya untuk bergabung dengan Persaudaraan Federal Tangerang Selatan. Ia meyakini, komunitas dapat menjadi ruang untuk memperluas pergaulan sekaligus menjaga kebugaran tubuh.

“Kita bisa banyak bersilaturahmi, mendapatkan teman, bahkan memperoleh kesehatan,” ujarnya.

Ia tidak menampik kemungkinan adanya anggota yang memanfaatkan komunitas untuk kepentingan hubungan di luar kegiatan bersepeda. Namun, menurut dia, hal itu kembali kepada pribadi masing-masing.

“Mungkin ada. Kita tidak bisa menampik,” katanya.

Pagi itu, di tengah padatnya Bundaran Pamulang, rombongan tersebut bersiap meninggalkan hiruk-pikuk kota. Tujuan mereka adalah Pantai Carita, dengan perjalanan panjang yang menuntut stamina, kesabaran, dan kedisiplinan.

Bagi para pesepeda tua ini, usia sepeda boleh terus bertambah, begitu pula usia pengendaranya. Namun, semangat untuk bergerak, menjaga kesehatan, dan mempererat persaudaraan tetap menyala. Sebab, perjalanan menuju pantai bukan hanya tentang mencapai tujuan, melainkan juga tentang menikmati setiap kayuhan bersama kawan seperjalanan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com