Beritabanten.com – Ada sebuah guyonan pahit yang populer di kalangan pengendara yang melintasi perbatasan provinsi: “Anda tidak butuh GPS untuk tahu kapan masuk Banten, cukup rasakan saja getaran di ban kendaraan Anda.”

Ketimpangan infrastruktur jalan antara Jawa Barat dan Banten bukan lagi sekadar isu, melainkan fakta kasatmata yang memprihatinkan. Saat melintasi wilayah perbatasan seperti Bogor-Lebak atau Sukabumi-Lebak, perbedaannya begitu kontras.

Di sisi Jawa Barat, kita seringkali disambut dengan aspal hitam mulus dan marka jalan yang jelas. Namun, begitu roda kendaraan menyentuh tanah Banten, pemandangan berubah drastis: jalanan berlubang, aspal yang mengelupas, hingga jalan beton yang retak dan bergelombang.

Pertanyaannya sederhana: Kenapa Jabar bisa, Banten tidak? Padahal, Banten adalah salah satu provinsi dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi berkat keberadaan industri raksasa dan pelabuhan internasional.

Namun, kemegahan industri di Cilegon atau Tangerang Raya seolah tidak menetes ke perbaikan akses jalan di Banten Selatan.

Jalanan yang rusak ini bukan sekadar soal kenyamanan berkendara, tapi soal urat nadi ekonomi warga. Bagaimana petani di pelosok Lebak atau Pandeglang bisa bersaing jika ongkos angkut barangnya mahal akibat jalanan yang hancur?

Pemerintah Provinsi Banten tidak boleh lagi bersembunyi di balik alasan “anggaran terbatas” atau “itu jalan kabupaten”.

Rakyat hanya tahu bahwa mereka membayar pajak yang sama, namun mendapatkan kualitas pelayanan infrastruktur yang jauh tertinggal dari tetangga sebelah.

Banten sudah terlalu lama tertidur dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu. Jika Pemprov tidak segera melakukan perbaikan masif dan serius, maka “Selamat Datang di Banten” akan tetap menjadi sinyal bagi para pengendara untuk bersiap-siap menghadapi jalanan yang menyiksa raga dan kendaraan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com