Beritabanten.comNilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melonjak pada Kamis pagi (22/5), ditopang sentimen positif pasar terhadap langkah Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga acuan serta meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi defisit fiskal AS yang semakin melebar.

Mengacu pada data Bloomberg pukul 09.07 WIB, rupiah di pasar spot terapresiasi 92 poin atau setara 0,56 persen ke posisi Rp16.306,5 per dolar AS. Sehari sebelumnya, pada Rabu (21/5), rupiah ditutup menguat 16,5 poin ke Rp16.396 per dolar AS.

Indeks dolar AS pagi ini tercatat menurun tipis 0,05 poin ke level 99,5. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun meningkat 18 basis poin ke posisi 4,59 persen, mencerminkan keresahan investor terhadap outlook fiskal Negeri Paman Sam.

Menurut analis mata uang dari PT Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah tak lepas dari keputusan BI yang menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Selain itu, suku bunga untuk fasilitas simpanan (Deposit Facility) dipangkas menjadi 4,75 persen, dan suku bunga pinjaman (Lending Facility) tetap bertahan di level 6,25 persen.

“Penurunan suku bunga ini mencerminkan keyakinan BI terhadap terkendalinya inflasi 2025–2026 dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen. Ini juga menjadi langkah untuk menjaga kestabilan nilai tukar dan mendorong pemulihan ekonomi secara berkelanjutan,” ujar Ibrahim.

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS turut membebani kinerja dolar. Data dari Trading View menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang mewaspadai risiko defisit anggaran AS yang berpotensi membengkak, diperparah oleh lemahnya minat investor terhadap lelang obligasi 20 tahun yang dilakukan semalam.

Analis senior dari Commonwealth Bank of Australia (CBA), Kristina Clifton, dalam laporan risetnya menjelaskan bahwa rencana pemotongan pajak di AS di tengah tekanan utang publik menimbulkan kecemasan di kalangan investor.

Hal tersebut turut mendorong naiknya yield obligasi dan menekan nilai tukar dolar sepanjang pekan ini.

Meski begitu, Clifton menekankan bahwa dalam jangka pendek, kekuatan pasar surat utang AS yang besar dan likuid tetap menjadi penopang utama bagi dolar dan obligasi AS.

Pada saat yang sama, perdagangan di pasar Asia menunjukkan pergerakan yang relatif stabil. Nilai tukar dolar terhadap won Korea Selatan (USD/KRW) naik tipis 0,2 persen ke level 1.377,14, sedangkan terhadap yen Jepang (USD/JPY) tercatat turun 0,2 persen ke posisi 143,38. Indeks dolar berada di kisaran 99,56.

Dengan sentimen positif dari kebijakan moneter domestik serta tekanan eksternal terhadap dolar AS, rupiah berpeluang melanjutkan tren penguatannya, meski risiko dari faktor global tetap patut dicermati oleh para pelaku pasar. (Sra)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com