Beritabanten.com – Ribuan warga Suku Baduy kembali turun dari kawasan adat menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lebak mengikuti tradisi tahunan Seba Baduy 2026, yang berlangsung pada 23–26 April 2026.
Prosesi ini menjadi salah satu pergerakan masyarakat adat terbesar dalam agenda budaya daerah, sekaligus momen untuk menegaskan persatuan, kesatuan, dan kelestarian budaya leluhur.
Rombongan tiba di Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, pada Jumat sore (24/4/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka berjalan kaki secara berkelompok dengan tertib, mengenakan pakaian adat khas: warna putih-hitam untuk Baduy Dalam dan biru gelap untuk Baduy Luar.
“Kehadiran sekitar 1.500 warga Baduy tahun ini mencerminkan konsistensi masyarakat adat dalam menjaga tradisi,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Yosep Muhamad Holis.
Ritual Seba bukan sekadar upacara seremonial, melainkan wujud komunikasi dan penyampaian amanat masyarakat adat kepada pemerintah daerah, khususnya Bupati Lebak, yang juga dikenal sebagai Bapak Gede.
Menurut Bupati Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya, Seba Baduy merupakan bentuk rasa syukur sekaligus penguatan hubungan antara masyarakat adat dengan pemerintah.
“Tradisi ini bukan hanya simbol seremonial, tetapi mencerminkan nilai budaya yang terus dijaga secara turun-temurun,” kata Hasbi.
Ia menambahkan, kehadiran ribuan warga Baduy menjadi bukti kuatnya pelestarian budaya di Kabupaten Lebak.
Selain itu, Seba Baduy 2026 kembali masuk dalam agenda nasional Karisma Event Nusantara (KEN), menegaskan pengakuan terhadap nilai budaya yang dimiliki daerah ini.
Momentum Seba juga menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk meneladani persatuan dan kesatuan masyarakat Baduy, yang hidup harmonis, damai, dan saling menghormati, meski beragam agama, suku, bahasa, dan adat.
Kehidupan masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak menjadi teladan. Seluas 5.200 hektare hak tanah ulayat, termasuk 2.200 hektare hutan tutupan, tetap lestari, mencerminkan keseimbangan alam yang dijaga secara turun-temurun.
Tokoh masyarakat Baduy sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, menekankan bahwa ritual ini juga menjadi ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah.
“Semoga bangsa ini ke depan lebih kuat dengan persatuan dan kesatuan tanpa perpecahan,” ujarnya.
Pandangan serupa diungkapkan oleh Jet Bakels, peneliti University Leiden, Belanda, yang mengapresiasi kehidupan harmonis masyarakat Baduy. Menurutnya, warga Baduy hidup rukun, aman, dan damai, tanpa konflik internal, sehingga menjadi contoh bagi bangsa yang beragam.
Dengan jumlah peserta ribuan orang, tradisi Seba Baduy tahun ini kembali menjadi perhatian masyarakat luas sekaligus memperkuat posisi Kabupaten Lebak sebagai daerah yang konsisten menjaga warisan budaya leluhur. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan