Beritabanten.com – Sejak dilantik 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto langsung tancap gas urusan diplomasi. Catatan Sekretariat Negara per Mei 2026 menunjukkan beliau sudah 26 kali melakukan perjalanan luar negeri ke 29 negara berbeda.

Lawatan pertama dimulai ke Tiongkok 8-10 November 2024. Di Beijing, Prabowo bertemu langsung Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang. Agenda utamanya jelas: forum bisnis Indonesia-China buat narik investor.

Pola kunjungannya unik. Malaysia jadi negara paling sering disambangi, total 5 kali. Disusul Prancis dan Uni Emirat Arab yang masing-masing 4 kali. Sementara Mesir, Rusia, Britania Raya, dan Amerika Serikat sudah 3 kali dikunjungi.

Negara seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Qatar, Brasil, Tiongkok, dan Yordania masing-masing didatangi 2 kali. Sisanya Australia, Arab Saudi, India, Belanda, Kanada, dan lainnya sekali kunjungan.

Puncaknya September 2025 lalu. Dalam 6 hari Prabowo mampir ke 4 negara buat hadiri Sidang Umum PBB ke-80 di New York. Sebelum ke AS, beliau singgah sebentar di Jepang buat cek Paviliun Indonesia di Expo Osaka 2025.

Hasilnya lumayan: komitmen investasi USD 23,8 miliar atau sekitar Rp380 triliun masuk ke catatan Bappenas. Pidatonya di PBB urutan ketiga setelah Brasil dan AS bahkan dipuji langsung oleh Presiden AS, PM Kanada, Raja Belanda, sampai Presiden Macron yang nelpon buat kasih apresiasi.

Di tahun pertama jabatannya, intensitas lawatan Prabowo memang terlihat lebih padat. Presiden Jokowi di periode Oktober 2014-Oktober 2015 fokusnya ke ekonomi dan infrastruktur. Negara yang disambangi sekitar 15-18 negara, dengan kunjungan pertama juga ke Tiongkok dan AS buat ngunci investasi awal.

Perbandingan dengan Presiden Terdahulu

Era SBY 2004-2005, agenda luar negerinya banyak dihabiskan buat pemulihan pasca tsunami Aceh dan forum multilateral seperti KTT ASEAN serta APEC. Jumlah negaranya sekitar 12-15 negara di tahun pertama.

Sementara Bu Megawati 2001-2002 fokusnya memulihkan citra Indonesia pasca reformasi dan memperkuat hubungan ASEAN. Lawatannya sekitar 10-12 negara di tahun awal.

Bedanya, Prabowo langsung main di banyak front: G20, PBB, bilateral sama negara-negara Timur Tengah, Asia Timur, sampai Eropa. Ditambah misi “berburu investasi” yang jadi ciri khas. Makanya frekuensi terbangnya lebih tinggi dibanding presiden sebelumnya di periode yang sama.

Setneg bilang, semua lawatan ini tujuannya satu: bikin posisi Indonesia makin kuat di panggung global dan kantongi investasi triliunan rupiah buat program di dalam negeri.

Salah satu yang jadi sorotan dari gaya diplomasi Prabowo adalah pendekatannya yang “to the point”. Timnya menyebut beliau nggak banyak basa-basi saat bertemu pemimpin negara lain.

Langsung masuk ke inti: kerja sama pertahanan, pangan, energi, sampai hilirisasi industri. Makanya beberapa kunjungan ke Timur Tengah seperti Qatar dan Uni Emirat Arab diulang sampai 4 kali. Fokusnya jelas buat mengamankan pasokan energi dan investasi dana abadi mereka ke proyek strategis Indonesia.

Dampaknya juga mulai kerasa di dalam negeri. Beberapa BUMN dan kementerian langsung kebagian tugas menindaklanjuti nota kesepahaman yang ditandatangani saat lawatan.

Contohnya kerja sama dengan Jepang soal pengembangan IKN dan transisi energi, lalu dengan Korea Selatan di bidang industri baterai kendaraan listrik. Jadi lawatan ke luar negeri nggak berhenti jadi seremonial foto-foto doang, tapi dikejar realisasinya.

Pengamat politik luar negeri bilang, intensitas Prabowo ini mirip gaya kepala negara yang “hands-on” dalam diplomasi ekonomi. Tujuannya biar Indonesia nggak ketinggalan di tengah perang dagang dan persaingan blok ekonomi global.

Apalagi 2025-2026 jadi masa krusial buat mengamankan investasi sebelum pemilu paruh waktu di beberapa negara mitra. Dengan jadwal yang padat, istana menyebut kesehatan dan stamina Presiden jadi perhatian utama, tapi Prabowo sendiri berkali-kali bilang beliau siap kerja siang malam demi kepentingan bangsa. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com