Beritabanten.com — Ketika dunia bergerak cepat di arus globalisasi dan transformasi digital, Indonesia dan Kazakhstan tampak menyalakan mesin kerja sama ekonomi baru. Lahir kolaborasi kedua negara untuk menatap bersama tantangan global yang kian kompleks.
Senin (11/05), di Astana, Kazahstan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin Sidang Komisi Bersama (SKB) kedua RI-Kazakhstan, berdampingan dengan Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi Nasional Kazakhstan, Serik Zhumangarin.
Ini bukan sekadar pertemuan diplomatik, karena SKB kali ini menandai kebangkitan hubungan bilateral yang terakhir aktif pada 2013, setelah hampir satu dekade tidur.
Dengan Indonesia–EAEU Free Trade Agreement (FTA) yang ditandatangani Desember 2025, kedua negara menatap peluang baru untuk memperluas akses pasar dan memperkuat perdagangan strategis.
“Kerja sama ini bukan hanya soal perdagangan, tapi juga memperluas pengaruh kita di Eurasia,” kata Menko Airlangga, menegaskan posisi Indonesia sebagai pintu masuk Asia Tenggara.
Menariknya, Kazakhstan telah menobatkan 2026 sebagai Tahun Digitalisasi dan Artificial Intelligence. Di balik jargon diplomasi, ini membuka peluang kolaborasi konkret: inovasi, pengembangan talenta, hingga joint project di ranah kecerdasan buatan.
Indonesia sendiri menyiapkan National AI Roadmap 2020–2045, dan dalam pertemuan ini, Wakil Menteri AI Kazakhstan, Bakhtiyar Mukhametkaliyev, menyambut terbuka kerja sama teknologi dan pertukaran informasi.
Tapi pertemuan ini tak hanya soal digital. Dari perdagangan, investasi, energi, konektivitas, ketahanan pangan, hingga pariwisata dan pertukaran budaya, daftar agenda tampak padat.
Fakta unik: jumlah wisatawan Kazakhstan ke Indonesia melonjak dari 8.198 pada 2023 menjadi 24.424 pada 2025—bukan sekadar statistik, tetapi tanda ketertarikan nyata masyarakat terhadap Indonesia.
Dari Astana, pesan yang muncul jelas: diplomasi ekonomi modern bukan sekadar perjanjian, tapi kombinasi perdagangan, teknologi, dan konektivitas manusia.
Indonesia bersiap memanfaatkan peluang Eurasia, memperluas pasar, memperkuat investasi, dan menjadikan kerja sama strategis sebagai pendorong pertumbuhan nyata bagi masyarakat.
Pertemuan ini dihadiri pula Duta Besar RI untuk Kazakhstan dan Tajikistan Mochamad Fadjroel Rachman, Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta perwakilan kementerian dan pelaku usaha dari kedua negara. Di Astana, terlihat bahwa diplomasi ekonomi bukan hanya ada di meja perundingan tetapi dalam aksi nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan