Beritabanten.com – Presiden Prabowo Subianto berdiri di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang pada Sabtu 5 April 2026. Di depannya, tiga peti jenazah prajurit TNI yang gugur di misi perdamaian Lebanon dibalut bendera Merah Putih.
Mereka adalah Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadon pulang dalam kondisi tak bernyawa.
Tapi yang disorot media? Karpet merah, bunga rapi, kamera merekam, dan pidato heroik—bukan nyawa nyata yang hilang di medan berbahaya.
Mayor Zulmi dan Serka Ichwan tewas saat konvoi logistik diserang di Bani Hayyan. Kopda Farizal menjadi korban proyektil artileri di Adchit al-Qusayr.
Nyawa mereka melayang, risiko nyata mereka tanggung sendiri, sementara negara sibuk mengatur protokol agar terlihat heroik. Simbol menggantikan realitas.
Jenazah diterbangkan dari Beirut via Istanbul, mendarat di Jakarta sore itu. Peti-peti langsung dibawa ke ruang VVIP.
Semua dramatis, sempurna untuk kamera. Keluarga prajurit? Menatap kosong, kehilangan yang tak tergantikan.
Kenaikan pangkat luar biasa? Hanya simbol heroik, bukan kompensasi atas risiko yang seharusnya diantisipasi sejak awal.
Pidato ‘penghormatan terakhir’ terdengar gagah, membicarakan keberanian, dedikasi, pengabdian. Nyatanya, keluarga menanggung duka, medan berbahaya tetap tanpa perlindungan maksimal.
Negara hadir? Hanya sebatas teatrikal, bukan nyata. Ini menegaskan menegaskan: simbol heroik tidak cukup. Nyawa prajurit bukan properti untuk foto dramatis.
Setiap tragedi menjadi panggung media. Upacara, tepuk tangan, sorotan kamera—cantik di mata publik, tapi kosong bagi yang ditinggalkan.
Simbol heroik menutupi kenyataan pahit: perlindungan minim, risiko tinggi, dan keluarga berduka tanpa dukungan berkelanjutan.
Pertanyaannya: apakah negara hadir saat prajurit berhadapan dengan bahaya, atau hanya muncul saat jenazah pulang agar publik bisa terkesan? Upacara dan kenaikan pangkat hanyalah alat agar elite politik terlihat peduli.
Realitanya, pengorbanan itu nyata, medan tugas tetap mematikan, keluarga tetap kehilangan.
Jika pengorbanan prajurit hanya menjadi simbol, setiap penghormatan berubah jadi teatrikal. Cantik di mata publik, tapi hampa di hati yang ditinggalkan.
Negara yang sibuk bergaya, protokol dan pidato, tidak menolong nyawa yang melayang. Heroisme sejati bukan di panggung, tapi di lapangan, sebelum dan sesudah nyawa terancam.
Sedianya negara harus hadir nyata, bukan hanya berpose. Nyawa prajurit bukan dekorasi media. Simbol tidak bisa menggantikan tindakan nyata.(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan