Beritabanten.com – Tidak banyak yang menyadari penyeragaman atau diversifikasi motor listrik sebagai solusi penanggulangan masalah lingkungan.
Karena itu perlu edukasi pada masyarakat tentang manfaat menggunakan motor listrik sebagai cara sederhana dalam mengurangi polusi udara.
Motor listrik dapat membantu mengurangi polusi udara karena beberapa alasan:
Tanpa Emisi Gas Buang
Motor listrik tidak memiliki mesin pembakaran internal, sehingga tidak menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, dan partikulat halus.
Mengurangi Polusi Udara
Dengan tidak adanya emisi gas buang, motor listrik dapat membantu mengurangi polusi udara di perkotaan dan meningkatkan kualitas udara.
Mengurangi dampak perubahan iklim
Motor listrik dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim.
Lebih Efisien
Motor listrik memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan motor bensin, sehingga dapat mengurangi konsumsi energi dan mengurangi polusi udara.
Motor listrik dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan membantu mengurangi polusi udara di perkotaan.
Namun kenyataan pahit di depan mata karena peta industri kendaraan listrik global berada di tangan negeri gingseng.
Dominasi China
China mengendalikan 92 persen pasokan rare earth atau material vital yang menjadi tulang punggung pembuatan motor listrik.
Adalah General Manager Lisence and Government Relation PT Mobil Anak Bangsa (MAB) Puryanto meyakini dominasi China sudah mencapai titik yang sulit dihindari.
“Siapa pun yang memproduksi mobil atau motor listrik, mau tidak mau harus berurusan dengan China untuk bahan bakunya,” ujarnya. dikutip dari inilah, Sabtu (7/6/2025).
Motor listrik sangat bergantung pada dua material kritis: permanent magnet dan kawat tembaga.
Permanent magnet, yang terbuat dari rare earth seperti neodymium dan dysprosium, menjadi komponen tak tergantikan dalam motor listrik modern.
Sementara itu, kawat tembaga berperan sebagai konduktor listrik yang efisien.
Negara ini menguasai 70 persen tambang rare earth global sekaligus 92 persen pasar pengolahannya.
Artinya, hampir semua produsen kendaraan listrik ternama –dari Tesla di AS hingga BYD di China sendiri– tidak punya pilihan selain membeli bahan baku dari China.
Upaya berbagai negara untuk mengurangi ketergantungan pada China menghadapi tantangan berat.
AS dan Uni Eropa memang berusaha membangun rantai pasok alternatif, tetapi kenyataannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Biaya ekstraksi rare earth yang tinggi, proses pemurnian yang rumit dan berpolusi, serta penguasaan teknologi pengolahan yang telah dimiliki China selama puluhan tahun membuat upaya diversifikasi bahan baku menjadi sangat sulit.
“Indonesia punya cadangan tembaga dari Freeport yang bisa dimanfaatkan, tetapi untuk rare earth, kita masih sangat bergantung pada China,” jelas Puryanto.
China tidak main-main dalam mempertahankan posisinya sebagai raja kendaraan listrik dunia.
Melalui kebijakan ‘Made in China 2025’, pemerintahan Presiden Xi Jinping melakukan serangkaian langkah strategis.
Nikel Terbesar di Indonesia
Sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia sebenarnya punya peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam industri baterai kendaraan listrik.
Namun, untuk komponen motor listrik, ketergantungan pada rare earth China masih menjadi tantangan berat yang harus diatasi.
Dominasi China dalam industri kendaraan listrik tidak hanya berbicara tentang keunggulan teknologi, tetapi lebih kepada penguasaan bahan baku kritis.
Jika negara-negara lain ingin benar-benar bersaing, mereka harus menemukan solusi alternatif untuk rare earth –atau bersiap menerima kenyataan bahwa ketergantungan pada Beijing akan berlanjut dalam waktu yang cukup lama. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan