Beritabanten.com – Teheran sekarang menjadikan kekuasaan tidak semata lahir dari mimbar agama atau barak militer.
Ia juga ditempa di ruang kuliah, laboratorium, dan teks-teks hukum.
Dalam lanskap politik Iran mutakhir, sosok presiden dan wakil presidennya menunjukkan satu pergeseran halus: dari otoritas religius menuju kredensial intelektual yang lebih beragam.
Dokter di Puncak Kekuasaan
Melansir suara com, nama Masoud Pezeshkian muncul sebagai anomali sekaligus penanda zaman. Ia bukan ulama, bukan pula perwira militer. Ia seorang dokter.
Lahir di Mahabad, Pezeshkian meniti jalan akademik di dunia kedokteran, menamatkan pendidikan di Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz. Ia kemudian dikenal sebagai ahli bedah jantung—profesi yang menuntut presisi, ketenangan, dan logika ilmiah.
Namun, pengalaman intelektualnya tak berhenti di ruang operasi. Pada dekade 1980-an, ia terjun sebagai koordinator tim medis selama perang Iran–Irak—sebuah “laboratorium sosial” yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan realitas politik dan kemanusiaan.
Di sanalah, barangkali, terbentuk cara pandangnya: bahwa negara, seperti tubuh manusia, membutuhkan diagnosis yang tepat sebelum terapi dijalankan.
Berbeda dengan pendahulunya yang berlatar belakang ulama, Pezeshkian membawa etos teknokratik ke jantung kekuasaan. Ia adalah representasi dari kelas menengah terdidik Iran—mereka yang melihat negara bukan hanya sebagai proyek ideologis, tetapi juga sistem yang harus dikelola secara rasional.
Wakil Presiden: Dari Kampus ke Kekuasaan
Di belakang presiden, berdiri figur wakil presiden yang juga tak kalah kental dengan jejak intelektual. Salah satu tokoh kunci adalah Mohsen Esmaeili.
Dalam wikimeeia dijelaakan, bahwa Esmaeili bukan dokter, melainkan seorang yuris—ahli hukum. Ia menempuh pendidikan di Shahid Motahari University dan Tarbiat Modarres University, dua institusi yang dikenal melahirkan elite intelektual Iran di bidang hukum dan studi Islam.
Kariernya bergerak di persimpangan akademik dan politik: dari dosen hingga anggota Majelis Ahli, lembaga penting yang berwenang memilih Pemimpin Tertinggi. Dalam dirinya, hukum bukan sekadar perangkat normatif, melainkan instrumen kekuasaan.
Penunjukannya sebagai wakil presiden untuk urusan strategis dan parlemen menunjukkan satu hal: pemerintahan Pezeshkian membutuhkan lebih dari sekadar pendekatan medis.
Ia membutuhkan tafsir hukum yang cermat untuk menavigasi kompleksitas negara yang diikat oleh konstitusi religius sekaligus tuntutan modernitas.
Mozaik Intelektual dalam Politik Iran
Jika ditarik lebih luas, jajaran wakil presiden Iran hari ini membentuk spektrum intelektual yang menarik: ekonom, teknokrat, ilmuwan, hingga aktivis sosial.
Ini bukan kebetulan. Dalam sistem Republik Islam Iran, legitimasi tidak hanya bersumber dari agama, tetapi juga dari kapasitas intelektual yang mampu menjawab krisis—ekonomi, sosial, maupun geopolitik.
Pezeshkian dan Esmaeili adalah dua titik dalam spektrum itu. Yang satu membawa logika klinis: mengidentifikasi masalah, mengobati, memulihkan. Yang lain membawa logika yuridis: menafsirkan, mengatur, dan menjaga keseimbangan kekuasaan.
Antara Rasionalitas dan Ideologi
Namun, pertanyaannya tetap menggantung: sejauh mana latar intelektual ini mampu menggeser watak ideologis negara?
Iran bukan sekadar negara modern; ia adalah proyek revolusi yang belum selesai. Di dalamnya, ilmu pengetahuan dan agama kerap berjalan beriringan—kadang selaras, kadang berseberangan.
Di tangan Pezeshkian, ilmu kedokteran menjadi metafora politik: negara sebagai tubuh yang harus disembuhkan. Sementara di tangan Esmaeili, hukum menjadi alat untuk menjaga agar “tubuh” itu tetap berada dalam kerangka ideologisnya.
Di antara keduanya, Iran bergerak—perlahan, hati-hati—menuju satu kemungkinan: bahwa masa depan politiknya tidak lagi ditentukan hanya oleh siapa yang paling saleh, tetapi juga oleh siapa yang paling terdidik. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan