Beritabanten.com — Kamis malam, 15 Oktober 2026. Deru kendaraan membelah padatnya lalu lintas Jakarta. Lampu-lampu kendaraan berpendar di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Ribuan orang bergerak menuju tujuan masing-masing, sementara sebagian lainnya masih berjibaku mencari nafkah. Namun, di bawah Jembatan Semanggi, seorang pengemudi ojek online terbaring di atas kursi bata. Matanya terpejam, tubuhnya merebah, seolah tak lagi sanggup menahan lelah setelah berjuang di jalanan.

Tak ada kasur empuk. Tak ada bantal untuk menyangga kepala. Tak ada kamar nyaman untuk memejamkan mata. Hanya beton keras di sudut kolong jembatan yang menjadi tempatnya merebahkan tubuh, mencuri sedikit waktu untuk beristirahat di tengah kerasnya kehidupan ibu kota.

Pemandangan itu terpantau media pada Kamis malam. Di sekelilingnya, Jakarta tetap sibuk. Kendaraan melaju tanpa henti, suara mesin bersahutan, sementara orang-orang berlalu-lalang seakan tak pernah kehabisan urusan.

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, seorang pejuang nafkah memilih berhenti sejenak. Tubuhnya mungkin membutuhkan istirahat sebelum kembali memacu kendaraan, membuka aplikasi, dan menanti pesanan berikutnya.

Ia tidak sendirian.

Di sudut-sudut kawasan itu, sejumlah orang tampak duduk melepas penat. Ada yang menikmati minuman, ada pula pedagang Starling atau Starbucks Keliling yang terus menyusuri jalanan, menawarkan kopi kepada siapa saja yang bersedia membeli.

Masing-masing membawa perjuangannya sendiri. Pengemudi ojek online menunggu pesanan demi pendapatan. Pedagang Starling berkeliling mengadu peruntungan demi dagangan yang laku. Sementara pekerja lainnya berusaha memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan aktivitas.

Di tempat yang sama, ada yang masih berjuang mendapatkan uang, ada yang mencoba mengusir penat, dan ada pula yang menjadikan sudut jalan sebagai tempat beristirahat.

Bagi sebagian orang, tidur di atas bata mungkin hanya pemandangan biasa di tengah padatnya Jakarta. Namun, di balik tubuh yang terbaring itu, tersimpan potret kerasnya perjuangan sebagian pekerja sektor informal. Ketika rasa lelah tak lagi tertahankan, tempat beristirahat yang layak terkadang bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan.

Menjadi pengemudi ojek online bukan sekadar memutar gas dan mengantar penumpang. Ada waktu yang dihabiskan untuk menunggu pesanan, ada kemacetan yang menguras tenaga, ada panas dan hujan yang harus diterjang, serta kebutuhan hidup yang terus menunggu untuk dipenuhi.

Di jalanan, waktu istirahat bisa menjadi kemewahan. Setiap menit yang berlalu berpotensi menjadi kesempatan mencari penghasilan. Namun, tubuh manusia memiliki batas. Ada saatnya rasa kantuk mengalahkan keinginan untuk terus bergerak, memaksa seseorang berhenti meski hanya untuk sejenak.

Di bawah Jembatan Semanggi, susunan bata itu menjadi saksi bisu sebuah perjuangan. Di atasnya, seorang pengemudi ojek online memejamkan mata, sementara kehidupan kota terus bergerak tanpa jeda.

Jakarta kerap dipandang sebagai kota dengan gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, dan gemerlap kehidupan malam. Namun, di balik kemegahannya, ada wajah lain yang tak boleh luput dari pandangan: orang-orang yang mengandalkan tenaga sendiri untuk menyambung hidup, hari demi hari.

Mereka mungkin tak dikenal. Tak ada tepuk tangan ketika mereka berangkat bekerja, tak ada sorotan ketika mereka menunggu pesanan, dan tak banyak yang memperhatikan ketika mereka kelelahan. Mereka hanya bagian kecil dari keramaian kota, tetapi perjuangan mereka nyata adanya.

Kamis malam itu, di bawah Jembatan Semanggi, seorang pengemudi ojek online terlelap di atas bata. Tak diketahui berapa lama ia telah bekerja atau berapa banyak pesanan yang sudah diselesaikannya. Yang terlihat hanyalah tubuh yang beristirahat di tengah lalu lintas yang masih ramai.

Barangkali, ketika rasa lelahnya mereda, ia akan kembali bangkit. Menyalakan kendaraan, menatap layar ponsel, lalu menunggu pesanan berikutnya. Sebab, di balik setiap perjalanan, ada harapan untuk membawa pulang penghasilan.

Malam itu menjadi pengingat bahwa di balik laju Jakarta yang tak pernah melambat, ada orang-orang yang harus berjuang keras sekadar untuk bertahan. Bagi mereka, istirahat bukanlah akhir dari perjuangan. Ia hanyalah jeda singkat sebelum kembali menjemput rezeki.

Di bawah jembatan, di atas bata yang keras, seorang pencari nafkah memejamkan mata. Sementara Jakarta terus berlari, ia mengumpulkan tenaga untuk kembali berjuang.(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com