Beritabanten.com – Deru mesin sepeda motor memecah siang hari di jalan Raya Baturaja-Prabumulih, Kecamatan Lubai Muara Enim .
Dua kardus terikat di belakang bersama tas pakaian dan seorang anak duduk dengan jaket di helm diapit orang tuanya di tengah. Di atas dua roda, ribuan orang bergerak perlahan menuju satu tujuan yang sama: mudik lebaran.
Mudik tahun ini kembali menunjukkan wajah lamanya—pemudik motor menjadi yang terbanyak. Di sepanjang jalan, pemandangan serupa berulang: rombongan kecil, keluarga sederhana, hingga pekerja muda yang menempuh ratusan kilometer demi bertemu orang tercinta.
Bagi Riyan (34), perjalanan dari Kota Pramulih ke Baturaja bukan hal baru. Ia sudah lima tahun berturut-turut mudik menggunakan motor.
“Kalau naik bus mahal, belum tentu dapat tiket. Pakai motor lebih bebas, bisa berhenti kapan saja,” ujarnya sambil mengecek ikatan barang bawaannya di bahu jalan.
Dirinya yang ditemui di Kecamatan Lubai Muara Enim pada hari kedua lebaran Minggu 22 Maret 2026 sedang mengambil istirahat di sebuah masjid sekalian shalat dzuhur.
“Saya ikut lebaran pemerintah ka yang baru bisa mudik ke Baturaja di hari kedua lebaran. Kan mertua di Kota Prabumulih, tinggal bareng karena berjualan di pasar pagi,” dia tambahkan.
Dia mengaku mudik dengan roda dua menjadi pilihan ekonomis sekaligus bebas bisa menentukan waktu mudik. Kondisi ekonomi yang membuat jualan kurang baik menyebabkan dirinya memilih menggunakan sepeda motor.
Namun kebebasan itu datang dengan risiko. Terik matahari siang hari dan dinginnya angin malam menjadi teman perjalanan yang tak terhindarkan. Belum lagi ancaman kelelahan yang kerap diabaikan. Di sebuah posko istirahat, beberapa pemudik tampak merebahkan diri di tikar seadanya, sekadar memejamkan mata sebelum melanjutkan perjalanan panjang.
Di sisi lain, petugas terus berjaga. Mereka mengatur arus, memberi imbauan, dan sesekali membantu pemudik yang mengalami kendala di jalan. “Kami sarankan istirahat setiap dua jam. Jangan dipaksakan,” kata seorang petugas dengan nada tegas namun bersahabat.
Fenomena dominasi pemudik motor bukan sekadar soal angka. Ini adalah potret pilihan hidup—tentang keterbatasan, efisiensi, dan tekad untuk tetap pulang. Di balik helm dan jaket sederhana, ada rindu yang dibawa melintasi kota, melewati kemacetan, dan menantang lelah.
Saat senja mulai turun, arus motor belum juga surut. Lampu-lampu kecil menyala, membentuk garis panjang yang bergerak perlahan di kejauhan. Di antara hiruk-pikuk perjalanan itu, satu hal tetap sama: semangat untuk sampai di rumah, apa pun caranya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan