Beritabanten.com – Kepemimpinan tidak selalu lahir dari ruang-ruang kekuasaan. Bagi Abdul Rasyid,  perjalanan itu justru dimulai dari lingkungan pesantren yang menanamkan nilai kesederhanaan, kedisiplinan, kejujuran, dan semangat melayani.

Bekal tersebut menjadi fondasi yang mengantarkannya dipercaya memimpin DPRD Kota Tangerang Selatan selama dua periode.

Sebagai Ketua DPRD Kota Tangerang Selatan, Abdul Rasyid dikenal sebagai sosok yang mengedepankan komunikasi, musyawarah, dan kolaborasi dalam menjalankan fungsi legislatif.

Baginya, jabatan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Perjalanan hidupnya dimulai dari Pondok Pesantren Daar el-Qolam, salah satu pesantren terkemuka di Banten yang dikenal melahirkan banyak tokoh di berbagai bidang.

Kehidupan di pesantren membentuk karakter kepemimpinannya yang sederhana, mandiri, dan terbiasa hidup dalam keberagaman.

“Bagi saya, pesantren mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan manfaat. Kepemimpinan bukan soal dihormati, tetapi bagaimana kita mampu melayani,” menjadi prinsip yang terus dipegangnya dalam menjalankan setiap amanah.

Abdul Roysid bersama pimpinan DPRD Kota Tangsel – Net.

Kuliah dan Forum Kajian

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Abdul Rasyid melanjutkan studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada Jurusan Perbandingan Agama dan lulus pada 1997.

Pilihan bidang studi tersebut memperluas cara pandangnya terhadap keberagaman, toleransi, serta pentingnya membangun dialog dalam kehidupan berbangsa.

Semangat belajar tidak berhenti di jenjang sarjana. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Administrasi Publik di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Bekal akademik tersebut memperkuat pemahamannya mengenai tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, hingga pentingnya membangun birokrasi yang efektif, transparan, dan akuntabel.

Masa kuliah di Ciputat menjadi titik penting dalam pembentukan kepemimpinannya. Abdul Rasyid aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi kader yang dikenal melahirkan banyak pemimpin nasional. Di organisasi tersebut, ia ditempa menjadi pribadi yang kritis, berintegritas, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

Selain HMI, ia juga aktif di Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci), ruang intelektual yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah dan latar belakang organisasi.

Pengalaman tersebut mengasah kemampuannya berdiskusi, membangun jejaring, dan mencari titik temu di tengah perbedaan pandangan.

Perpaduan pendidikan pesantren, pengalaman akademik, dan aktivisme mahasiswa membentuk karakter kepemimpinannya yang inklusif.

Ia memandang keberagaman bukan sebagai sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang harus dirawat melalui dialog, musyawarah, dan saling menghormati.

Semangat pengabdian kemudian membawanya bergabung dengan Partai Golkar. Bagi Abdul Rasyid, politik adalah instrumen untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui jalur konstitusional, bukan sekadar arena perebutan kekuasaan.

Kepercayaan masyarakat mengantarkannya terpilih sebagai anggota DPRD Kota Tangerang Selatan selama tiga periode berturut-turut.

Konsistensi dalam menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan membuatnya menjadi salah satu politisi senior yang mengikuti perjalanan pembangunan Tangsel sejak kota ini berdiri.

Atas pengalaman dan kapasitas kepemimpinannya, Abdul Rasyid dua kali dipercaya menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Tangerang Selatan.

Amanah tersebut menjadi bukti kepercayaan lintas fraksi terhadap kemampuannya membangun komunikasi politik dan menjaga harmonisasi hubungan antara legislatif dengan pemerintah daerah.

Abdul Rosyid dalam satu acara di KPU Tangsel – Net.

Orator Handal

Dalam memimpin DPRD, ia dikenal sebagai orator yang tenang namun argumentatif. Setiap gagasan disampaikan secara sistematis, mudah dipahami, dan berorientasi pada penyelesaian masalah.

Kemampuan berkomunikasi tersebut menjadikannya mampu menjembatani berbagai kepentingan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip demokrasi.

Di balik pembawaannya yang ramah, Abdul Rasyid juga dikenal sebagai negosiator yang tegas. Ia lebih memilih menyelesaikan persoalan melalui musyawarah daripada mempertajam perbedaan.

Menurutnya, keputusan terbaik adalah keputusan yang lahir dari dialog dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

Sebagai Ketua DPRD, ia terus mendorong penguatan fungsi legislatif sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menghasilkan kebijakan yang berkualitas.

Fungsi pengawasan dijalankan secara konstruktif agar setiap program pembangunan berjalan efektif, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Abdul Rasyid juga menjaga komunikasi dengan berbagai elemen, mulai dari pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, akademisi, insan pers, pelaku usaha, hingga generasi muda. Ia meyakini pembangunan daerah hanya akan berhasil apabila seluruh komponen masyarakat dilibatkan dalam prosesnya.

Bagi Abdul Rasyid, kepemimpinan adalah tentang merangkul, bukan memisahkan. Pengalaman panjang sebagai santri, aktivis, akademisi, politisi, dan pemimpin legislatif membentuk keyakinannya bahwa kemajuan daerah hanya dapat dicapai melalui kolaborasi, keterbukaan, dan semangat melayani.

Dengan prinsip tersebut, Abdul Rasyid terus mengemban amanah sebagai Ketua DPRD Kota Tangsel, mengawal pembangunan daerah melalui kebijakan yang aspiratif, demokratis, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat demi mewujudkan Tangerang Selatan yang semakin maju, harmonis, dan berdaya saing. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com