Beritabanten.com – Pagi bagi sebagian pekerja di Jakarta bukan sekadar soal mengejar waktu agar tidak terlambat masuk kantor. Di sela kesibukan dan perjalanan menuju tempat kerja, ada ruang kecil yang berusaha tetap dipertahankan: waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat Dhuha.

Kebiasaan itu dijalani Dindin Tajudin, seorang pekerja di Jakarta. Sebelum berangkat bekerja, ia berusaha menyempatkan diri melaksanakan shalat Dhuha di Masjid Agung Al-Furqon, RT 003 RW 009, Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan.

Hal itu disampaikan Dindin Tajudin saat ditemui Beritabanten.com di Masjid Agung Al-Furqon, RT 003 RW 009, Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kamis (1/10/2026) pagi.

Bagi Dindin, shalat Dhuha bukan sekadar tambahan ibadah di pagi hari. Ia memandangnya sebagai cara menata hati sebelum menjalani aktivitas pekerjaan. Kesibukan mencari nafkah, menurut dia, tetap perlu diawali dengan mengingat bahwa rezeki pada akhirnya merupakan bagian dari ketentuan dan kehendak Allah.

“Saya berusaha menyempatkan shalat Dhuha sebelum berangkat kerja. Rasanya ada yang kurang kalau pagi tidak diawali dengan ibadah,” ujar Dindin.

Menurutnya, shalat Dhuha juga memberikan dorongan untuk membentuk sikap dalam bekerja. Setelah menunaikan ibadah, seseorang diingatkan kembali bahwa bekerja bukan semata-mata mengejar penghasilan, tetapi juga bagian dari ikhtiar yang harus dijalankan dengan cara yang baik.

“Shalat Dhuha itu baik untuk memantapkan sikap bekerja. Kita bekerja tetap harus sungguh-sungguh, tetapi jangan sampai lupa bahwa rezeki itu ada yang mengatur,” katanya.

Secara sederhana, Dhuha berarti waktu pagi ketika matahari mulai naik hingga menjelang tergelincirnya matahari. Shalat Dhuha merupakan shalat sunah yang dikerjakan pada waktu tersebut. Karena dilakukan di pagi hari, ibadah ini kerap menjadi bagian dari rutinitas sebagian umat Islam sebelum memulai aktivitas harian.

Bagi sebagian masyarakat Muslim, shalat Dhuha juga lekat dengan doa memohon kemudahan, keberkahan dan keluasan rezeki. Namun, makna rezeki tidak selalu harus dipahami sebatas uang atau peningkatan penghasilan. Kesehatan, ketenangan hati, kesempatan bekerja, keluarga, waktu, serta kemampuan menjalani kehidupan dengan baik juga dapat dipandang sebagai bentuk rezeki.

Karena itu, menyebut shalat Dhuha sebagai ikhtiar membuka pintu rezeki lebih tepat ditempatkan dalam konteks spiritual. Ia bukan semacam rumus otomatis bahwa seseorang yang melaksanakan Dhuha pasti mendapatkan keuntungan materi tertentu. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa ikhtiar mencari nafkah berjalan beriringan dengan doa, disiplin, kejujuran dan ketawakalan.

Kebiasaan Dindin tersebut juga menemukan suasana yang mendukung di Masjid Agung Al-Furqon. Pengurus masjid yang biasa disapa RT Arsan mengatakan, cukup banyak warga yang datang untuk melaksanakan shalat Dhuha.

Menurut Arsan, keberadaan masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan shalat wajib. Masjid juga menjadi ruang perjumpaan warga, tempat berlangsungnya pengajian dan ruang pembinaan keagamaan yang telah berlangsung sejak lama.

“Banyak warga yang shalat Dhuha di sini. Pagi memang ada saja warga yang datang untuk beribadah,” ujar Arsan.

Arsan menuturkan, Masjid Agung Al-Furqon telah berdiri sejak sekitar 1950. Dalam perjalanan panjangnya, masjid tersebut menjadi bagian dari sejarah kehidupan keagamaan masyarakat Pondok Benda dan sekitarnya.

Salah satu tokoh yang disebut memiliki peran penting dalam kehidupan pengajian di lingkungan masjid tersebut adalah KH Saidih, yang kini dikenal sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang Selatan.

Arsan menggambarkan KH Saidih sebagai sosok yang ulet dalam membina umat. Pendekatan dakwahnya, kata dia, tidak selalu disampaikan dengan bahasa yang kaku. Gaya guyon khas Betawi justru menjadi salah satu cara yang membuat pesan-pesan keagamaan terasa dekat dengan masyarakat.

“Beliau itu ulet membina umat. Gaya guyon Betawinya renyah, tetapi di balik guyon itu ada maknanya. Jadi orang bisa tertawa, tetapi setelah itu kepikiran dengan pesan yang disampaikan,” tutur Arsan.

Tradisi semacam itu membuat masjid bukan hanya menjadi bangunan tempat ibadah, melainkan juga menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Di sana, agama bertemu dengan keseharian: orang datang untuk shalat, bertemu tetangga, mengikuti pengajian, sekaligus mendapatkan penguatan sebelum kembali menjalani aktivitas.

Di tengah ritme kehidupan perkotaan yang serba cepat, kebiasaan Dindin menyempatkan shalat Dhuha sebelum bekerja menunjukkan bahwa ibadah dapat menjadi jeda yang sederhana tetapi bermakna. Beberapa menit di masjid pada pagi hari menjadi kesempatan untuk menata niat sebelum berhadapan dengan pekerjaan, target, perjalanan dan berbagai persoalan kehidupan.

Pada akhirnya, rezeki tidak hanya berbicara tentang apa yang diperoleh setelah bekerja, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani proses mendapatkannya. Shalat Dhuha bagi Dindin menjadi pengingat bahwa bekerja adalah ikhtiar, sementara hasilnya tetap diserahkan kepada Allah. Dari ruang kecil sebuah masjid di Pondok Benda, rutinitas itu menjadi cara sederhana untuk menjaga keseimbangan antara mengejar kehidupan dunia dan memelihara hubungan dengan Tuhan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com