Beritabanten.com – Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Tangerang Selatan, H. Abdullah Mas’ud, M.Si., menyerukan perubahan cara kerja organisasi. Ia meminta seluruh lembaga di lingkungan PCNU Tangsel tidak berhenti pada urusan struktur, kepengurusan, dan kegiatan seremonial, tetapi bergerak menjadi mesin khidmah yang menghasilkan program nyata dan manfaat langsung bagi jamaah.

Pesan itu disampaikan Abdullah Mas’ud dalam Muskercab PCNU Kota Tangerang Selatan Masa Khidmat 2026–2031. Mengusung tema “Menggerakkan Lembaga, Mengakselerasi Khidmah: Membangun PCNU Tangsel yang Profesional, Produktif, Mandiri dan Berdampak”, forum tersebut diarahkan menjadi titik awal penguatan kinerja organisasi lima tahun ke depan.

Abdullah menegaskan, surat keputusan atau SK kepengurusan bukanlah tanda bahwa tugas organisasi telah selesai. Sebaliknya, SK merupakan awal dari tanggung jawab yang harus dibuktikan melalui kerja.

“SK bukan tanda bahwa perjuangan telah selesai. Justru SK adalah tanda bahwa pekerjaan baru dimulai. Kita tidak ingin pengurus hanya tercantum dalam struktur, tetapi harus hadir dalam gerakan dan memberi manfaat nyata kepada jamaah,” tegas Abdullah Mas’ud.

Ia mendorong PCNU Tangsel melakukan perubahan dari organisasi yang hanya berorientasi pada banyaknya kegiatan menjadi organisasi yang mampu mengukur kinerja dan dampaknya.

Menurut Abdullah, setiap lembaga harus memiliki program prioritas yang jelas, target terukur, indikator keberhasilan, jejaring kolaborasi, serta karya yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan organisasi tidak semata-mata dilihat dari seberapa ramai sebuah acara digelar atau seberapa banyak program tercantum dalam rencana kerja. Yang jauh lebih penting adalah perubahan yang dihasilkan setelah program tersebut dijalankan.

“Jangan ukur keberhasilan hanya dari ramainya acara atau banyaknya program. Pertanyaan terpenting adalah: apa yang berubah karena kita bekerja dan apa manfaat yang dirasakan jamaah?” ujarnya.

Abdullah merumuskan empat karakter yang harus menjadi budaya kerja seluruh lembaga PCNU Tangsel, yakni profesional, produktif, mandiri, dan berdampak.

Profesional berarti setiap lembaga bekerja dengan perencanaan dan tata kelola yang jelas. Produktif berarti program tidak berhenti pada agenda, tetapi menghasilkan karya. Mandiri berarti lembaga memiliki kemampuan mengembangkan sumber daya dan jejaring. Sedangkan berdampak berarti seluruh kerja organisasi harus bermuara pada manfaat yang nyata bagi jamaah dan masyarakat.

Muskercab PCNU Tangsel juga menjadi ruang untuk menerjemahkan Road Map NU Tangsel 2026–2046 dan Renstra PCNU Tangsel 2026–2031 ke dalam program kerja konkret masing-masing lembaga.

Abdullah yang juga Ketua Yayasan Pesantren Al-Nahdlah itu mengingatkan agar seluruh perangkat organisasi tidak bekerja secara terpisah. Kekuatan PCNU Tangsel, menurutnya, justru akan semakin besar jika lembaga, badan otonom, MWCNU hingga ranting mampu membangun kerja bersama.

Kolaborasi juga perlu diperluas dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, serta berbagai elemen masyarakat. Dengan jejaring yang semakin luas, program PCNU diharapkan tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga memiliki jangkauan manfaat yang lebih besar.

“Jangan bekerja sendiri-sendiri. Kita harus membangun kolaborasi agar seluruh potensi yang dimiliki NU Tangsel bisa bergerak dalam satu arah,” katanya.

Ia menegaskan, arah perubahan tersebut bukan semata-mata untuk memperbesar organisasi. Lebih dari itu, PCNU Tangsel harus mampu memperbesar manfaat dari keberadaan organisasi di tengah masyarakat.

“Kita bergerak bukan untuk membesarkan diri, tetapi membesarkan khidmah. Kita bekerja bukan untuk meninggalkan nama, tetapi meninggalkan manfaat. Struktur harus menjadi gerakan, program harus menjadi manfaat, dan khidmah harus melahirkan dampak,” pungkasnya (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com