Beritabanten.com – Pagi itu, aliran Sungai Cibanten di Desa Sukabares, Kecamatan Ciomas, tak hanya membawa air yang mengalir menuju hilir. Sungai itu juga mengalirkan harapan. Sebanyak 20 ribu benih ikan nila dilepas ke perairan sebagai penanda dimulainya Festival Ciomas Ngabring 2026, sebuah perayaan budaya yang lahir dari semangat masyarakat untuk merawat alam sekaligus mempererat persaudaraan.

Di tepian sungai, Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Serang, Camat Ciomas, pelajar, dan masyarakat menyaksikan benih-benih ikan menyebar ke dalam air. Pelepasan itu bukan sekadar seremoni, melainkan simbol bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

Najib Hamas mengatakan penebaran benih ikan juga menjadi bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pelestarian ekosistem dan penguatan sumber pangan harus berjalan beriringan demi mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera.

Namun, Ciomas Ngabring tidak berhenti pada upaya menjaga lingkungan. Festival ini juga menjadi panggung bagi kekayaan budaya lokal yang tumbuh dan hidup bersama masyarakat. Dari gerak tari silat yang gagah hingga sajian kuliner khas daerah, semuanya dirangkai dalam semangat kebersamaan yang sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Camat Ciomas Ugun Gumelar menuturkan, festival tersebut menjadi ruang silaturahmi bagi sebelas desa di Kecamatan Ciomas. Perbedaan wilayah seakan melebur dalam satu identitas yang sama, yakni sebagai masyarakat Ciomas yang memiliki akar budaya dan semangat gotong royong yang kuat.

Selama hampir satu bulan rangkaian kegiatan digelar. Setelah penebaran benih ikan, masyarakat akan disuguhi tari silat kolosal atau Ngabring, pelepasan ratusan balon udara, ribuan lampion yang menerangi langit malam, hingga makan karedok bersama yang menghadirkan ribuan porsi untuk dinikmati secara bergotong royong.

Puncak perhatian tertuju pada tari silat kolosal yang diperkirakan akan diikuti ribuan warga dari berbagai kalangan usia. Bagi masyarakat Ciomas, seni bela diri bukan sekadar pertunjukan, melainkan warisan budaya yang mengajarkan keberanian, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Menariknya, semangat pemberdayaan ekonomi lokal juga terasa dalam festival ini. Kaus yang dikenakan para peserta diproduksi oleh pelaku usaha di Ciomas. Langkah sederhana itu menjadi bukti bahwa sebuah festival budaya mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi daerah.

Ciomas Ngabring akhirnya bukan hanya tentang keramaian atau kemeriahan sebuah festival. Ia adalah cerita tentang masyarakat yang memilih merawat sungai, menjaga budaya, menghidupkan ekonomi lokal, dan mempererat persaudaraan dalam satu perayaan. Sebab, ketika alam, tradisi, dan kebersamaan berjalan seiring, sebuah daerah tidak hanya memiliki identitas, tetapi juga harapan untuk tumbuh bersama. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com