Beritabanten.com — Pengamat politik Made Supriatma mengkritik perhitungan tim Agrinas mengenai potensi omzet Koperasi Desa (Kopdes), Selasa (7/7/2026). Kritik itu muncul setelah beredar ilustrasi yang menyebut bahwa jika sebuah desa memiliki 400 kepala keluarga (KK) dan setiap KK berbelanja Rp1 juta per bulan di Kopdes, maka koperasi akan meraup omzet Rp400 juta setiap bulan.

Di atas kertas, hitungannya memang terlihat sederhana. Namun, bagi Made, persoalannya justru dimulai dari asumsi paling dasar.”Agrinas: Kopdes itu soal gampang. Kalau satu desa ada 400 KK; setiap KK belanja 1 JT per bulan. Setahun 1,2 M. Soalnya: yang 1 juta itu dari mana datangnya? Mbahmu? Cuk!”

Terlepas dari kekeliruan hitungan dalam unggahan tersebut—omzet Rp400 juta per bulan seharusnya setara Rp4,8 miliar dalam setahun, bukan Rp1,2 miliar—kritik Made mengarah pada persoalan yang lebih mendasar: dari mana daya beli itu berasal?

Empat ratus keluarga tidak otomatis memiliki Rp1 juta setiap bulan untuk dibelanjakan di koperasi. Agar uang itu beredar, masyarakat harus lebih dulu memiliki pendapatan. Artinya harus ada pekerjaan, hasil pertanian yang terserap pasar, usaha yang berkembang, upah yang memadai, dan aktivitas ekonomi yang benar-benar hidup di desa. Tanpa fondasi tersebut, asumsi bahwa setiap keluarga akan rutin berbelanja Rp1 juta setiap bulan lebih menyerupai simulasi di lembar kerja daripada kenyataan di lapangan.

Selama ini, persoalan ekonomi desa bukan karena masyarakat tidak tahu cara berbelanja. Yang menjadi masalah adalah kemampuan untuk membelanjakan uang. Ketika penghasilan habis untuk kebutuhan pokok seperti beras, listrik, biaya sekolah, pupuk, cicilan, hingga ongkos transportasi, muncul pertanyaan sederhana: dari mana tambahan Rp1 juta itu akan berasal? Dari Mbahnya?

Kritik Made menyentil kecenderungan lama dalam penyusunan kebijakan, yakni terlalu mudah menghitung potensi uang masyarakat tanpa lebih dulu memastikan uang itu benar-benar ada. Di ruang rapat, angka memang selalu patuh pada rumus. Namun, kalkulator tidak pernah menghitung gagal panen, harga komoditas yang jatuh, nelayan yang tidak bisa melaut, buruh yang kehilangan pekerjaan, atau keluarga yang harus berutang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jika Kopdes ingin menjadi motor penggerak ekonomi desa, fokus utamanya semestinya bukan mengejar target omzet melalui asumsi konsumsi warga, melainkan meningkatkan kemampuan masyarakat menghasilkan pendapatan. Produksi perlu diperkuat, akses pasar diperluas, usaha kecil didampingi, rantai distribusi dipersingkat, dan hasil pertanian diberi kepastian pembeli. Ketika pendapatan meningkat, daya beli akan tumbuh dengan sendirinya.

Sebab meminta masyarakat membelanjakan uang yang belum mereka miliki agar koperasi tampak berhasil bukanlah strategi pemberdayaan ekonomi. Itu sekadar optimisme yang berdiri di atas asumsi. Dan seperti disindir Made Supriatma, sebelum menghitung omzet ratusan juta rupiah, ada satu pertanyaan yang lebih penting dijawab: uangnya dari mana? (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com