Beritabanten.com — Polemik mengenai jalan rusak yang ditanami pohon pisang di Sulawesi Selatan berlanjut. Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Rabu (8/7/2026), memberikan klarifikasi setelah pernyataannya menuai perhatian publik.
Sehari sebelumnya, saat menghadiri Hari Jadi ke-67 Kabupaten Maros, Andi Sudirman menyampaikan bahwa jalan provinsi yang ditanami pohon pisang sebagai bentuk protes justru berpotensi membuat pekerjaan jalan tidak bisa segera dilakukan.
Sebuah babak baru dalam tata kelola infrastruktur. Kini, persoalan jalan rusak tampaknya bukan hanya soal anggaran, perencanaan, atau lambatnya pelaksanaan proyek, tetapi juga soal keberadaan pohon pisang di atas aspal yang berlubang.
Menurut Andi Sudirman, pernyataan tersebut dimaksudkan sebagai edukasi agar masyarakat tidak melakukan aksi fisik di badan jalan. Ia menjelaskan, penanaman pohon atau benda lain dapat menghambat mobilisasi alat berat serta proses pelaksanaan konstruksi.
Persoalannya, pohon pisang biasanya baru hadir ketika alat berat terlalu lama absen.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memastikan pembangunan jalan tetap berjalan sesuai perencanaan melalui program penanganan jalan provinsi sepanjang 1.000 kilometer berdasarkan skala prioritas. Dengan kata lain, masyarakat diminta bersabar, tetapi diharapkan tidak menjadikan jalan rusak sebagai media ekspresi selama masa penantian.
Dalam urusan infrastruktur, pemerintah menentukan prioritas pembangunan. Masyarakat menyampaikan keluhan. Namun belakangan, bukan hanya waktu pembangunan yang diatur, cara menyampaikan protes pun ikut memiliki batasan.
Sementara itu, pohon pisang belum mengeluarkan pernyataan resmi. Ia masih berdiri di tengah jalan berlubang, menunggu apakah proyek pembangunan akan tiba lebih dulu atau justru buahnya yang lebih dahulu matang. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan