Beritabanten.com – Masa depan ekonomi global masih dibayangi oleh downside risks di antaranya tensi geopolitik, fragmentasi geoekonomi, pelemahan ekonomi tiongkok, penguatan mata uang Amerika Serikat, suku bunga tinggi di negara maju, dan juga pengetatan fiskal di negara maju.

Ancaman turbunlensi ekonomi global tersebut membuat investor beralih ke aset safe haven seperti komoditi emas dan Dolar Amerika Serikat. Ini berakibat pada depresiasi nilai tukar pada banyak negara di seluruh dunia.

“Perekonomian global masih di bawah tren jangka panjang, dengan berbagai risiko yang berakibat penguatan Dolar Amerika Serikat, dan di negara-negara maju suku bunga dipertahankan tinggi serta fiskal diperketat untuk menjaga level inflasi,” jelas Menko Airlangga, melalui rilsi pada redaksi, Selasa (25/6/2024).

Dia jelaskan, hal tersebut merupakan sorotan utama dalam Sidang Kabinet Paripurna bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara kemarin.

Ketua Umum DPP Golkar ini berkata, ketahanan ekonomi kita tetap terjaga positif menurut data dari beberapa lembaga pemeringkat internasional. Perekonomian Indonesia pada Triwulan I-2024 mampu tumbuh kuat 5,11% (yoy).

Dia berkata, PMI Manufaktur Indonesia berada di level ekspansif selama 33 bulan berturut-turut, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap tinggi dan Indeks Penjualan Riil (IPR) dengan aktivitas industri dan konsumsi tetap terjaga baik.

“Harga beberapa komoditas pun mengalami kenaikan seperti CPO (7,26%), nikel (4,94%), dan tembaga (15,18%). Tentu ke depan dengan nilai Dolar AS yang menguat ini ada kesempatan untuk meningkatkan daya saing barang ekspor, karena ekspor yang berbahan baku rupiah itu mempunyai daya saing lebih tinggi,” ungkap Menko Airlangga.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com