Beritabanten.com – Armada operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) kembali menjadi perhatian publik setelah beredar sejumlah video yang menunjukkan kendaraan beridentitas program tersebut digunakan untuk mengangkut pasir dan tebu.

Dalam salah satu video yang viral di media sosial, sebuah truk bertuliskan Koperasi Desa Merah Putih terlihat membawa muatan pasir di sekitar area pertambangan. Namun, lokasi pasti, status muatan, serta konteks kegiatan tersebut belum dapat dipastikan.

Video lainnya memperlihatkan truk KDMP mengangkut tebu dalam jumlah besar. Kondisi muatan tersebut juga menuai sorotan warganet karena dinilai cukup berat dan berpotensi melebihi kapasitas kendaraan.

Perdebatan Penggunaan Armada KDMP

Penggunaan truk KDMP kemudian memunculkan perdebatan di publik. Sebagian pihak mempertanyakan apakah kendaraan yang disediakan untuk mendukung operasional koperasi dapat digunakan untuk mengangkut komoditas komersial seperti pasir.

Sementara itu, pengangkutan tebu dinilai memiliki konteks berbeda. Pasalnya, armada KDMP memang dirancang untuk mendukung distribusi hasil pertanian dan kegiatan ekonomi masyarakat desa.

Meski demikian, sorotan tetap muncul terutama jika penggunaan kendaraan tidak sesuai kapasitas atau di luar mekanisme resmi koperasi.

Proyek Pengadaan Triliunan Rupiah

Perhatian publik terhadap isu ini juga meningkat karena besarnya nilai pengadaan armada KDMP.

PT Putra Mandiri Jembar Tbk melalui anak usahanya PT Dipo Internasional Pahala Otomotif diketahui terlibat dalam pengadaan sekitar 20.600 unit truk enam ban untuk program KDMP.

Nilai kontrak pengadaan tersebut mencapai sekitar Rp10,83 triliun. Berdasarkan keterbukaan informasi, proyek ini juga melibatkan PT Agrinas Pangan Nusantara serta penyedia kendaraan terkait. Kontrak mulai efektif setelah adanya bank garansi pada Maret 2026, disertai pembayaran uang muka sekitar Rp2,84 triliun.

Transparansi dan Perawatan Armada KDPM

Besarnya investasi tersebut membuat publik menuntut pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan armada.

Warganet menyoroti potensi risiko kerusakan kendaraan jika digunakan untuk muatan berat atau tidak sesuai peruntukan. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa aset koperasi bisa lebih cepat rusak jika tidak dikelola dengan baik.

Di sisi lain, penggunaan truk untuk mengangkut hasil pertanian tidak serta-merta dianggap penyalahgunaan, karena KDMP memang dirancang sebagai bagian dari sistem logistik desa.

Tuntutan Kejelasan Penggunaan Armada

Persoalan utama yang kini menjadi perhatian bukan hanya jenis barang yang diangkut, melainkan transparansi penggunaan kendaraan.

Publik menilai perlu kejelasan mengenai siapa yang menggunakan armada, untuk kepentingan apa, bagaimana pendapatan jasa angkut dicatat, serta siapa yang bertanggung jawab atas perawatan kendaraan.

Jika armada digunakan dalam kegiatan usaha resmi koperasi dan tercatat secara transparan, maka hal tersebut dapat menjadi bagian dari aktivitas produktif. Namun jika digunakan di luar mekanisme resmi, hal itu dinilai perlu mendapat perhatian lebih lanjut.

Hingga saat ini, belum ada penjelasan rinci mengenai lokasi dan konteks pasti dalam video truk pengangkut pasir yang beredar.

Publik masih menunggu klarifikasi dari pihak pengelola koperasi maupun pihak terkait agar isu ini tidak berkembang menjadi spekulasi yang lebih luas. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com