Beritabanten.com – Di tengah gembar-gembor pemerintah soal penguatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional, realitas di lapangan justru menyisakan ironi. Pelaku usaha kecil seperti pedagang gorengan masih harus jungkir balik menghadapi kenaikan harga bahan penunjang yang luput dari perhatian.

Adalah Mpo Warsinah, pedagang gorengan di Kelurahan Pondok Jagung, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, yang merasakan langsung pahitnya kondisi tersebut. Meski dagangannya laris manis, tekanan biaya operasional justru semakin mencekik.

“Kalau pendapatan kotor sehari bisa tembus Rp450 ribu. Kalau weekend biasanya lebih ramai, bisa naik lagi,” ujar Warsinah kepada wartawan, Jumat (10/4).

Namun angka itu, kata dia, bukan berarti tanpa masalah. Justru di balik omset yang terlihat menjanjikan, ada beban biaya yang terus merangkak naik—terutama dari bahan sederhana yang kerap dianggap sepele: plastik dan kemasan.

“Harga plastik sekarang bikin pusing. Kresek yang biasa saya beli Rp5 ribu sekarang naik jadi Rp7 ribu. Styrofoam juga, dari Rp27 ribu sekarang bisa sampai Rp35 ribu,” keluhnya.

Kenaikan harga bahan kemasan ini dinilai semakin menekan margin keuntungan pedagang kecil. Ironisnya, persoalan ini nyaris tak tersentuh dalam narasi besar kebijakan UMKM yang kerap diklaim berpihak pada rakyat kecil.

Warsinah pun terpaksa memutar otak agar usahanya tetap berjalan. Salah satu langkah yang ia ambil adalah memanfaatkan ulang plastik yang masih layak pakai.

“Kalau dapat plastik dari belanja di pasar, saya bersihkan, keringkan, terus dipakai lagi buat bungkus. Mau gimana lagi, daripada nombok,” ujarnya lugas.

Langkah tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana pelaku UMKM bertahan bukan karena dukungan sistem yang kuat, melainkan kreativitas bertahan hidup di tengah minimnya intervensi nyata.

Di saat pemerintah sibuk bicara digitalisasi UMKM dan akses permodalan, persoalan mendasar seperti stabilitas harga bahan pendukung justru terabaikan.

Padahal, bagi pedagang kecil seperti Warsinah, kenaikan Rp2 ribu pada plastik bukan sekadar angka—melainkan soal keberlangsungan usaha.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin optimisme pelaku UMKM akan berubah menjadi kelelahan kolektif. Dan ketika itu terjadi, jargon “UMKM sebagai solusi perekonomian” berisiko tinggal slogan tanpa makna. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com