Beritabanten.com – Suara tabuhan musik tradisional berpadu dengan riuh tepuk tangan warga yang memadati Lapangan Al-Azhar Bintaro, Pondok Karya, Tangerang Selatan, Sabtu (4/7/2026).
Di antara deretan pertunjukan tari, pencak silat, barongsai, hingga lenong, terselip sebuah pesan yang jauh lebih besar dari sekadar hiburan: menjaga bumi dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Itulah semangat yang diusung Kenduri Festival Volume 3. Memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, festival ini tidak hanya merawat denyut seni dan budaya lokal, tetapi juga mengajak masyarakat menumbuhkan budaya baru yang ramah terhadap lingkungan.
Sejak pagi, warga dari berbagai kalangan berdatangan. Anak-anak, orang tua, komunitas seni, hingga tokoh masyarakat larut dalam suasana kebersamaan yang menjadi ciri khas Kenduri Festival.
Bagi sebagian warga, acara ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang bertemu, berbagi, dan merawat identitas kampung yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan kota.

Kebiasaan Ramah Lingkungan
Ketua Pelaksana Kenduri Festival, Budi Setiadi, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan pendekatan berbeda.
Jika dua edisi sebelumnya lebih menitikberatkan pada pelestarian budaya, kini festival mengusung tema green habit atau kebiasaan ramah lingkungan.
Melalui tema tersebut, masyarakat diajak memulai langkah sederhana, seperti memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, hingga membangun kepedulian terhadap ruang hidup bersama.
Pesan itu sengaja disisipkan di tengah kemeriahan festival agar lebih mudah diterima dan menjadi bagian dari keseharian warga.
Di Tangerang Selatan, beragam festival budaya tumbuh dan menjadi ruang ekspresi masyarakat. Ada yang menonjolkan pertunjukan seni, mengangkat potensi ekonomi kreatif, atau memperkenalkan tradisi lokal kepada generasi muda. Kenduri Festival hadir dengan coraknya sendiri.
Festival ini tidak berhenti pada panggung hiburan, melainkan menjadikan kebudayaan sebagai jalan untuk membangun kesadaran sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Rasa Memiliki Kampung Halaman
Pendekatan tersebut membuat Kenduri Festival memiliki makna yang lebih luas. Nilai-nilai yang selama ini hidup dalam tradisi kenduri—kebersamaan, gotong royong, dan rasa memiliki terhadap kampung halaman—diterjemahkan ke dalam gerakan yang relevan dengan kehidupan masyarakat perkotaan.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah dan menyusutnya ruang hijau, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah diposisikan sebagai bagian dari budaya baru yang perlu dibangun bersama.
Di tengah derasnya arus modernisasi, upaya semacam ini menjadi penting. Pelestarian budaya tidak lagi dipahami sebatas mempertahankan kesenian tradisional, melainkan juga menjaga nilai-nilai yang hidup di dalamnya agar tetap mampu menjawab tantangan zaman.
Tradisi menjadi jembatan yang menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.
Karena itu, Kenduri Festival perlahan membangun identitasnya sendiri. Ia bukan hanya menjadi agenda tahunan warga Pondok Karya, tetapi juga contoh bagaimana sebuah perayaan budaya dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang menghubungkan seni, pendidikan lingkungan, dan semangat gotong royong.
Dari lapangan tempat festival digelar, pesan itu diharapkan menyebar ke rumah-rumah, sekolah, hingga ruang publik sehingga budaya dan kepedulian terhadap alam tumbuh beriringan.
Meski membawa semangat baru, budaya tetap menjadi ruh utama festival. Berbagai pertunjukan tradisional tampil silih berganti, memperlihatkan kekayaan seni yang masih hidup di tengah masyarakat.
Bukan sekadar tontonan, setiap penampilan menjadi pengingat bahwa warisan budaya membutuhkan ruang untuk terus dikenalkan kepada generasi muda.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap mereka yang menjaga denyut kebudayaan tetap hidup, panitia juga menyerahkan Tokoh Budaya Award kepada sejumlah budayawan Pondok Karya.
Penghargaan itu menjadi simbol bahwa pelestarian budaya lahir dari dedikasi panjang banyak orang yang bekerja dalam senyap.
Harapan itu pula yang ingin terus dijaga. Bukan hanya agar budaya lokal tetap lestari, tetapi juga agar kesadaran menjaga lingkungan menjadi kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Sebab, festival mungkin hanya berlangsung sehari, namun nilai yang ditanamkannya diharapkan hidup jauh lebih lama di tengah masyarakat Pondok Karya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan