Baja tidak menjadi kuat karena ia sepenuhnya keras. Bahan yang terlalu keras justru dapat getas, retak, lalu patah ketika menerima benturan besar. Kekuatan baja lahir dari perpaduan sifat yang tampak bertentangan: ia keras, tetapi memiliki kelenturan; mampu menahan beban, tetapi juga dapat menyesuaikan diri terhadap tekanan. Ia bisa dibentuk tanpa kehilangan kekuatan dasarnya.

Filosofi itulah yang dapat digunakan untuk membaca sosok Tubagus Hendra Suherman. Dalam pergaulan, ia lentur. Hendra dikenal hangat, ramah, mudah bergaul dan hampir selalu menghadapi orang dengan senyum. Ia dapat masuk ke berbagai lingkungan, dari dunia korporasi dan pemerintahan hingga komunitas budaya, organisasi kemasyarakatan dan kelompok-kelompok yang tumbuh dari persahabatan panjang.

Kelenturan itu bukan kelemahan. Seperti baja, lentur justru berarti memiliki kemampuan menerima tekanan tanpa kehilangan bentuk. Seorang pemimpin tidak selalu harus berbicara keras untuk menunjukkan kekuatan. Ada kalanya ia harus mendengar, memahami watak orang lain, menyesuaikan cara berkomunikasi dan memberi ruang kepada mereka yang dipimpinnya.

Namun, baja juga memiliki batas elastis. Ia dapat lentur menghadapi tekanan, tetapi tidak mudah dipatahkan. Pada titik inilah sisi lain Hendra terlihat. Keramahannya tidak menghilangkan ketegasan. Sikap mengayomi tidak berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa arah. Ketika menyangkut pekerjaan, tanggung jawab dan keputusan yang dianggap penting, ia dapat berdiri keras pada prinsip yang diyakininya.

Karakter semacam itu tidak lahir dalam sehari. Baja memperoleh kekuatannya melalui tempaan. Panas mengubahnya, pukulan membentuknya, dan tekanan menguji apakah ia akan retak atau justru semakin kuat. Perjalanan Hendra juga melewati banyak medan: masa muda sebagai mahasiswa di Bandung, aktivitas alam bebas, dunia organisasi, kepemimpinan Pendekar Banten, pengelolaan transportasi publik, hingga memimpin transformasi sebuah BUMD investasi menjadi Perseroda PITS yang berfokus pada pelayanan air minum pada 2023.

Setiap medan memiliki tekanan berbeda. Alam mengajarkan daya tahan dan kebersamaan. Organisasi mengajarkan cara memahami manusia dengan berbagai wataknya. Dunia BUMD mempertemukannya dengan target, risiko, angka, kepentingan publik dan keputusan yang tidak selalu populer. Semua pengalaman itu seperti proses metalurgi: panas dan tekanan tidak selalu menghancurkan, tetapi dapat membentuk struktur yang lebih kuat.

Karena itu, julukan “Baja dari Banten” tidak perlu dimaknai sebagai gambaran seorang lelaki yang keras sepanjang waktu. Baja yang hanya keras akan mudah patah. Justru kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan untuk tetap lentur tanpa kehilangan keteguhan, ramah tanpa kehilangan wibawa, mengayomi tanpa kehilangan kendali, dan menerima tekanan tanpa mudah berubah arah.

Hendra memiliki akar Banten, tetapi perjalanan hidupnya membawanya melintasi banyak dunia. Ia dapat duduk bersama pendekar, berbicara dengan birokrat, berdiskusi dengan pebisnis, bercanda dengan pegawai, dan tetap membawa dirinya sebagai pemimpin perusahaan. Kemampuan bergerak di antara banyak lingkungan itulah bentuk kelenturannya.

Namun, seperti baja yang baik, kualitas sesungguhnya baru terlihat ketika beban datang. Pemimpin diuji bukan ketika semua orang setuju, perusahaan untung dan penghargaan berdatangan. Ia diuji ketika target meleset, tekanan membesar, kepentingan bertabrakan dan keputusan sulit harus diambil.

Di situlah filosofi baja menemukan makna paling dalam dalam perjalanan Tubagus Hendra Suherman: lentur, tetapi bukan lunak; keras, tetapi tidak getas; dapat ditempa, tetapi tidak mudah patah.

Dan mungkin, itulah mengapa judul “Baja dari Banten” terasa tepat. Bukan semata-mata karena asal-usulnya, melainkan karena perjalanan panjang telah menempanya menjadi sosok yang memahami satu hukum kehidupan: kekuatan bukanlah kemampuan untuk tidak pernah membungkuk, melainkan kemampuan untuk menerima tekanan, kembali tegak, dan tetap utuh.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com