Beritabanten.com– Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional, Center for Student with Special Needs (CSSN) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Program Studi Kesejahteraan Sosial (FDIK) dan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menyelenggarakan seminar nasional bertema inklusi dan literasi disabilitas.
Kegiatan ini diprakarsai oleh seorang dosen pengampu mata kuliah Disabilitas di Prodi Kesejahteraan Sosial, yaitu Dr. HJ. Siti Napsiyah, SAg, BSW, MSW dengan dukungan mahasiswa “Sahabat Difabel” dari PBSI. Seminar ini bertujuan meningkatkan edukasi dan literasi tentang hak-hak penyandang disabilitas di lingkungan kampus dan masyarakat luas.
Dekan FITK, Prof. Siti Nurul Azkiya, dalam sambutannya menekankan pentingnya seminar ini dalam memperjuangkan aksesibilitas dan akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Ia berharap kegiatan serupa dapat mendorong UIN menjadi kampus inklusif. Ketua CSSN juga menyoroti perlunya dukungan institusional melalui penguatan status kelembagaan CSSN di struktur organisasi kampus.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, Ph.D., sebagai keynote speaker, berbagi pengalaman pribadi sebagai orang tua anak berkebutuhan khusus. Ia menegaskan komitmennya untuk mendukung program CSSN dan memperkuat kelembagaan layanan disabilitas di UIN Jakarta.
Perspektif Narasumber
Umar Syaroni, M.Med.Kom, kandidat Ph.D dari University of Sydney, Australia, berbagi kisah inspiratif sebagai penyandang disabilitas. Ia menjelaskan bahwa sejak kecil ia tidak pernah merasa malu dengan kondisinya.
Sebaliknya, ia merasa beruntung karena tumbuh dengan kasih sayang penuh dari orang tuanya yang selalu mendukungnya. Dukungan tersebut membantunya menyelesaikan pendidikan tinggi meski harus menghadapi berbagai stigma masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa stigma negatif terhadap penyandang disabilitas masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Salah satu pengalamannya adalah saat ia diberitakan oleh media dengan judul yang kurang sensitif, seperti “Diolok Anak Setan, Umar Malah Jadi Mahasiswa Difabel Berprestasi.” Menurutnya, penggunaan istilah seperti ini menunjukkan darurat literasi media di Indonesia, terutama dalam menyampaikan isu disabilitas.
Umar juga menekankan pentingnya person-centered training di masyarakat, termasuk dalam cara menyapa penyandang disabilitas dengan ramah tanpa membedakan. Selain itu, media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk mendukung inklusi disabilitas jika digunakan dengan bijak, bukan untuk mengeksploitasi atau menjadikan penyandang disabilitas sebagai objek hiburan.
Rayhan, alumni terbaik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, memaparkan sejarah panjang paradigma disabilitas, mulai dari charity model yang penuh belas kasihan hingga human rights model yang menekankan hak asasi penyandang disabilitas. Ia menegaskan bahwa pandangan masyarakat yang menganggap penyandang disabilitas tidak mampu berprestasi harus diubah.
“Ketika saya diwawancarai oleh seorang wartawan setelah menjadi lulusan terbaik, saya justru ditanya bagaimana saya bisa lulus tepat waktu. Ini adalah bentuk dari stigma yang masih kuat. Penyandang disabilitas sering dianggap lemah atau tidak kompeten sejak mereka lahir. Paradigma ini harus segera diubah agar penyandang disabilitas bisa dilihat sebagai individu yang setara, berdaya, dan mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat,” ungkap Rayhan.
Ia juga menjelaskan bahwa saat ini transisi menuju paradigma universal design perlu diperkuat. Desain universal mencakup modifikasi lingkungan agar ramah terhadap semua orang, termasuk penyandang disabilitas, sehingga hak dan kesempatan dapat dirasakan secara setara.
Narasumber terakhir, mahasiswa semester ke-7 Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), menyoroti pentingnya Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 sebagai landasan hukum bagi penyandang disabilitas. Ia menekankan bahwa sudah saatnya paradigma pemberdayaan menggantikan paradigma belas kasih.
“Universal design bukan hanya tentang memudahkan akses penyandang disabilitas, tetapi juga menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua orang. Transportasi umum, fasilitas publik, dan kebijakan harus dirancang agar inklusif. Partisipasi penyandang disabilitas dalam pengambilan keputusan adalah kunci untuk mewujudkan kesetaraan di setiap aspek kehidupan,” tegasnya.
Seminar ini menjadi momentum untuk mengedukasi civitas akademika dan masyarakat luas tentang pentingnya inklusi disabilitas. Dengan dukungan berkelanjutan, diharapkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat menjadi pelopor kampus yang inklusif dan ramah disabilitas.
Selamat Hari Disabilitas Internasional 2024! (Sn)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan