Beritabanten.com – Permukiman Jalan Jamlang II, Kelurahan Cibodasari, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, jadi penentu ubah tumpukan sampah jadi barang berharga.

Adakah Bank Sampah 102 mengubah botol plastik, kardus bekas, hingga kantong kresek yang biasanya berakhir di tempat pembuangan menjadi sumber harapan bagi masyarakat.

Bukan sekadar tempat menabung sampah, Bank Sampah 102 tumbuh menjadi ruang kebersamaan warga. Selama hampir lima tahun, tempat ini perlahan mengubah kebiasaan masyarakat sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata.

Di tangan para pengelola dan warga, sampah-sampah rumah tangga diolah menjadi berbagai produk kreatif bernilai jual. Botol plastik disulap menjadi sapu, tutup botol menjadi gantungan, sementara kresek bekas dimanfaatkan menjadi mainan edukatif untuk anak-anak.

Ketua Bank Sampah 102, Saifuddin, mengatakan seluruh kegiatan tersebut berjalan berkat dukungan warga dan kolaborasi dengan pelaku UMKM agar hasil daur ulang dapat dipasarkan lebih luas.

“Produk daur ulang bekerja sama dengan UMKM sehingga pemasarannya lebih luas,” ujarnya.

Namun, yang tumbuh di Bank Sampah 102 bukan hanya kreativitas mengolah limbah. Dari hasil pengelolaan sampah itulah lahir berbagai kegiatan sosial untuk masyarakat sekitar.

Keuntungan yang diperoleh tidak dinikmati sendiri, melainkan diputar kembali menjadi rumah belajar gratis, santunan anak yatim, hingga kegiatan Jumat Berkah.

“Kita tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga ada edukasi dan kegiatan sosial. Dana dari daur ulang atau keuntungan dari sampah diputar kembali untuk kegiatan sosial agar manfaatnya kembali ke warga,” kata Saifuddin.

Perubahan itu perlahan terasa di lingkungan sekitar. Jika dahulu sampah kerap berserakan di sudut-sudut jalan, kini warga mulai terbiasa memilah sampah dari rumah.

Lingkungan menjadi lebih bersih, sementara anak-anak memiliki tempat belajar dan ruang bermain yang lebih bermanfaat.

“Lingkungan sekarang jadi lebih bersih dan sehat. Anak-anak juga punya rumah belajar sehingga waktu luang mereka lebih bermanfaat,” tambahnya.

Bagi sebagian warga, Bank Sampah 102 bahkan menjadi penyambung harapan di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Pipit, salah satu nasabah yang sudah bergabung selama tiga tahun, mengaku merasakan langsung manfaat keberadaan bank sampah tersebut.

“Sangat terbantu sekali. Dulu sampah plastik biasanya langsung dibuang, sekarang botol-botol yang tidak terpakai bisa jadi cuan juga,” ujarnya.

Menurut Pipit, manfaat Bank Sampah 102 dirasakan hampir seluruh warga. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini justru membantu menopang kesejahteraan masyarakat.

“Semua warga cukup terbantu. Sampah-sampah yang tadinya berserakan sekarang ditampung di Bank Sampah 102 dan hasilnya juga membantu kesejahteraan warga,” katanya.

Di tengah persoalan sampah perkotaan yang kian mengkhawatirkan, Bank Sampah 102 membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana: memilah sampah dari rumah.

Dari barang-barang yang dibuang, lahir kepedulian, kebersamaan, dan harapan baru bagi warga sekitar.

“Persoalan sampah bukan untuk diwariskan kepada anak cucu kita. Kita bisa mulai sekarang memilah sampah dari rumah agar bisa didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” tandas Pipit. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com