Beritabanten.comMenteri ESDM Bahlil Lahadalia menjadi satu-satunya anak buah Prabowo yang kini jadi pusat perhatiannya. Pasalnya dia sukses menggelar acara meriah  Groundbreaking Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi yang dihadiri langsung Presiden Prabowo Subianto.

Padahal acara dilakukan pada hari Minggu 29 Juni 2025 di tengah banyak orang sedang asyik liburan panjang Hari Raya 1 Muharram 1447 Hijriyyah.

Kenapa begitu repot seorang presiden menyempatkan diri? Ini terjawab dengan target besar dari proyek ini yang akan memiliki kapasitas produksi baterai kendaraan listrik sebesar 6,9 Giga Watt Hour (GWh) yang kemudian akan ditingkatkan menjadi 15 GWh.

Hal ini akan mengokohkan posisi Indonesia sebagai produsen baterai kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara.

“15 GWh ini sama dengan kalau kita konversi ke baterai mobil, itu kurang lebih sekitar 250 ribu sampai 300 ribu mobil,” katanya, dikutip dari laman resmi esdm.go.id, Selaxa 1 Juli 2025.

Dia mengutip arahan Presiden Prabowo bahwa konsorsium tidak hanya bangun tidak hanya baterai mobil, tapi juga baterai untuk mengisi listrik dengan mempergunakan solar panel.

“Sudah kita bicarakan, sampai tadi malam, dan insya Allah mereka bersedia untuk kita kembangkan agar semua produk ada dalam negeri,” ujar Bahlil.

Proyek industri baterai listrik terintegrasi ini merupakan ekosistem baterai berbasis nikel terintegrasi pertama di dunia dan terbesar di Asia Tenggara.

Ekosistem ini mulai dari pertambangan nikel di Halmahera Timur hingga produksi baterai kendaraan listrik di Karawang.

Adapun pada kawasan industri energi baru Feni Haltim (FHT) Halmahera Timur mencakup lima subproyek utama, yaitu:

  1. Pertambangan nikel senilai USD 500 juta/IDR 7,6 triliun dengan kapasitas 10 juta ton per tahun
  2. RKEF (Rotary Klin Electric Furnace) senilai USD 1,4miliar/IDR 22,4 triliun dengan kapasitas 88 ribu tonFeNi per tahun
  3. HPAL (High Pressure Acid Leach) senilai USD 1,9 miliar/IDR 30,4 triliun dengan kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun
  4. Material Baterai Katoda senilai USD 700 juta/IDR 11,2 triliun dengan kapasitas per tahun sebesar 16 ribu ton Ni Nikel Sulfat, 30 ribu ton Ni Prekursor, dan 30 ribu ton Ni Material Aktif Katoda.
  5. Daur ulang baterai senilai USD 200 juta/IDR 3,2 triliun dengan kapasitas 20 ribu ton per tahun

Sementara satu subproyek lainnya berlokasi di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, yakni Proyek Sel Baterai senilai USD 1,2 miliar/IDR 19,2 triliun dengan kapasitas 15 GWh.

Secara keseluruhan, proyek ini mencakup rencana investasi hingga hampir USD 6 miliar dengan potensi penciptaan 35 ribu lapangan kerja secara langsung dan tidak langsung, serta berkontribusi USD 42 miliar kepada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia setiap tahunnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com