Beritabanten.com – Ruang Blandongan di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Senin pagi (29/6/2026), dipenuhi wajah-wajah muda yang menyimpan harapan besar.

Sebagian tampak tersenyum, sebagian lain berusaha menyembunyikan rasa gugup. Di tangan mereka bukan hanya tas perlengkapan bertanding, melainkan mimpi yang selama ini ditempa di lapangan-lapangan sederhana.

Sebanyak 72 pemain dan ofisial tim sepak bola putri Kota Tangerang Selatan resmi dilepas Wali Kota Benyamin Davnie. Mereka akan memulai perjalanan menuju Kudus, Jawa Tengah, untuk mengikuti kompetisi nasional. Dari rombongan itu, 23 pemain terbaik akan melanjutkan perjalanan yang lebih jauh: terbang ke Swedia membawa nama Indonesia dalam turnamen internasional Meet the World with SKF.

Bagi para pemain, perjalanan ini bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Ini adalah lompatan panjang dari latihan selepas sekolah, dari peluh di bawah terik matahari, menuju panggung yang akan mempertemukan mereka dengan tim-tim dari 78 negara.

“Ini sangat membanggakan. Mereka sudah berada di level nasional bahkan internasional. Semua ini lahir dari kegigihan para pemain, pelatih, Sekolah Sepak Bola, klub, dan tentu dukungan orang tua yang tidak pernah berhenti percaya,” kata Benyamin.

Tim sepak bola putri Tangsel baru dibentuk pada 2021. Usianya masih belia. Namun dalam waktu singkat, mereka mampu menembus berbagai kompetisi hingga menjadi juara di tingkat regional. Prestasi itulah yang membuka pintu menuju Swedia.

Di balik keberhasilan itu tersimpan cerita yang jarang terlihat. Ada orang tua yang setiap sore mengantar anaknya berlatih, pelatih yang terus menempa mental bertanding, hingga klub-klub sepak bola yang tetap bertahan membina atlet putri di tengah berbagai keterbatasan fasilitas.

Keikutsertaan di turnamen internasional juga menjadi bukti bahwa sepak bola putri Indonesia mulai menemukan ruang untuk tumbuh. Tangsel menjadi salah satu daerah yang menunjukkan bahwa pembinaan usia muda dapat melahirkan atlet yang mampu bersaing di level dunia.

Seluruh biaya keberangkatan menuju Kudus maupun Swedia ditanggung sponsor swasta. Pemerintah Kota Tangerang Selatan, kata Benyamin, akan terus memberikan dukungan, apa pun hasil yang diraih para pemain nanti.

“Bagi kami, mereka sudah menjadi pemenang. Kalau nanti pulang membawa gelar juara, tentu itu akan menjadi kebanggaan yang lebih besar lagi,” ujarnya.

Ketua PSSI Kota Tangerang Selatan Erlangga Yudha Nugraha memastikan seluruh pemain telah menjalani persiapan intensif. Selain meningkatkan kualitas permainan, tim pelatih juga mengatur pola makan, asupan gizi, dan vitamin agar kondisi fisik para pemain tetap prima selama menjalani dua turnamen yang berjarak ribuan kilometer itu.

Menurut Erlangga, kesempatan tampil di hadapan peserta dari puluhan negara bukan hanya soal mengejar kemenangan. Lebih dari itu, para pemain sedang membawa nama Kota Tangerang Selatan sekaligus menunjukkan bahwa pesepak bola putri Indonesia layak diperhitungkan.

Beberapa hari lagi mereka akan mengenakan seragam pertandingan. Di dada kiri tersemat lambang Garuda, di punggung ada nama masing-masing, dan di hati tersimpan doa dari keluarga yang menunggu di rumah.

Perjalanan menuju Swedia mungkin hanya berlangsung belasan jam dengan pesawat. Namun sesungguhnya, perjalanan itu telah dimulai bertahun-tahun lalu, ketika anak-anak perempuan itu pertama kali berani mengejar bola dan memilih bermimpi menjadi pesepak bola. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com