Beritabanten.com – Kita sering menyebut ibu tunggal sebagai perempuan kuat. Mereka dipuji karena mampu mencari nafkah, mengurus anak, mengambil keputusan, dan menyelesaikan berbagai persoalan sendirian. Pujian itu memang pantas. Namun, ada satu hal yang sering luput: tidak semua perempuan memilih untuk menjadi sekuat itu.

Sebagian menjadi ibu tunggal setelah perceraian. Sebagian kehilangan pasangan karena kematian. Ada pula yang ditinggalkan tanpa kepastian, sementara anak tetap harus makan, sekolah, dan tumbuh. Ketika orang yang seharusnya berbagi tanggung jawab tidak lagi ada atau tidak lagi menjalankan perannya, ibu tidak mendapat waktu untuk mempersiapkan diri. Ia hanya harus melanjutkan hidup.

Karena itu, kalimat “perempuan sekarang semakin mandiri” tidak selalu cukup menjelaskan kenyataan. Mandiri karena memiliki pilihan berbeda dengan mandiri karena tidak ada orang lain yang dapat diandalkan. Seorang ibu mungkin bekerja keras bukan karena sedang mengejar cita-cita karier, tetapi karena susu anak habis dan tagihan sekolah tidak mengenal keadaan rumah tangganya.

Di balik cerita tentang perempuan tangguh, ada beban yang jarang terlihat. Ibu tunggal harus menghitung uang sekaligus waktu. Jika bekerja lebih lama, siapa yang menjaga anak? Jika mengambil pekerjaan dengan gaji lebih rendah agar bisa pulang cepat, bagaimana kebutuhan rumah tangga dipenuhi? Setiap keputusan sering memaksa mereka mengorbankan sesuatu.

Masyarakat juga mudah memberikan nasihat kepada perempuan yang hidup sendiri. Mereka diminta pandai mengatur uang, lebih sabar menghadapi anak, tetap menjaga penampilan, tidak terlalu sibuk bekerja, tetapi juga jangan bergantung kepada orang lain. Seolah-olah satu orang harus mampu menggantikan sebuah sistem keluarga tanpa boleh terlihat kelelahan.

Ironinya, semakin baik seorang ibu bertahan, semakin mudah orang menganggap ia tidak membutuhkan bantuan. Karena anak tetap sekolah dan makanan tetap tersedia, perjuangannya terlihat baik-baik saja. Padahal ketangguhan sering kali bukan tanda bahwa bebannya ringan, melainkan bukti bahwa ia tidak memiliki pilihan selain terus berjalan.

Karena itu, ibu tunggal tidak hanya membutuhkan pujian. Mereka membutuhkan pekerjaan yang layak, pengasuhan anak yang terjangkau, perlindungan sosial, dan kepastian tanggung jawab dari orang tua lainnya setelah perceraian. Kekuatan pribadi tidak seharusnya dijadikan alasan bagi masyarakat dan negara untuk membiarkan seseorang memikul semuanya sendiri.

Mungkin kita perlu berhenti terlalu cepat menyebut setiap ibu tunggal sebagai perempuan hebat. Bukan karena mereka tidak hebat, tetapi karena pujian kadang menjadi cara paling sopan untuk membiarkan seseorang terus berjuang sendirian. Ada perempuan yang tampak kuat bukan karena hidup memberinya banyak pilihan, tetapi karena berhenti bukan pilihan yang tersedia. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com