Beritabanten.com – andeglang memiliki modal besar untuk berkembang. Selain dikenal sebagai daerah dengan tradisi pesantren yang kuat, kabupaten di ujung barat Provinsi Banten ini menyimpan potensi pertanian, perikanan, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Di tengah potensi tersebut, santri memiliki peluang untuk mengambil peran lebih luas, bukan hanya sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak inovasi dan pembangunan daerah.

Puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Kabupaten Pandeglang di Alun-alun Pandeglang, Kamis (22/10/2026), menjadi momentum untuk memperkuat peran tersebut. Ribuan santri, ulama, pimpinan pesantren, pelajar, dan jajaran pemerintah daerah hadir dalam upacara yang dipimpin Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani.

Dalam amanat Menteri Agama yang dibacakannya, Dewi menegaskan bahwa Hari Santri bukan hanya milik kalangan pesantren, melainkan seluruh bangsa Indonesia yang menghargai perjuangan, menjunjung persatuan, dan mencintai tanah air. Ia juga mengajak santri menjaga tradisi pesantren, mengembangkan inovasi, memperkuat persaudaraan, serta mengabdikan diri bagi bangsa dan negara.

Pesan tersebut relevan dengan tantangan Pandeglang saat ini. Kekuatan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada kekayaan alam dan tradisi. Pandeglang membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengolah potensi menjadi produk bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja, memperluas akses pasar, dan menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.

Di sektor pertanian, misalnya, santri dapat mengembangkan kewirausahaan berbasis hasil bumi melalui pengolahan pangan, pemasaran digital, dan penguatan merek produk lokal. Di bidang perikanan, peluang terbuka melalui inovasi pengolahan hasil laut dan pengembangan usaha yang memperpanjang rantai nilai produk. Sementara itu, potensi wisata alam dan religi dapat dikembangkan melalui usaha kuliner, kerajinan, layanan wisata, serta kegiatan edukasi yang melibatkan masyarakat dan lingkungan pesantren.

Gagasan tersebut bukan berarti pesantren harus meninggalkan fungsi utamanya dalam pendidikan agama. Sebaliknya, nilai kejujuran, disiplin, kemandirian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial yang tumbuh dalam tradisi pesantren dapat menjadi modal penting dalam membangun kewirausahaan yang beretika. Santri dapat tetap berpegang pada nilai keislaman sekaligus menguasai keterampilan yang dibutuhkan pada era digital.

Dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting agar peluang tersebut tidak berhenti sebagai gagasan. Pesantren dapat membangun kemitraan dengan perguruan tinggi, pelaku usaha, koperasi, komunitas digital, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat kapasitas santri. Pelatihan kewirausahaan, literasi keuangan, teknologi pengolahan pangan, pemasaran digital, dan pengembangan produk halal dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan santri menghadapi kebutuhan zaman.

Data ekonomi memberikan gambaran mengenai besarnya peluang itu. Berdasarkan data BPS yang dilansir Katadata pada 20 Oktober 2026, ekonomi Kabupaten Pandeglang tumbuh 5,18 persen pada 2025, dengan nilai produk domestik regional bruto atas dasar harga konstan meningkat dari Rp21,93 triliun pada 2024 menjadi Rp23,06 triliun pada 2025. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi salah satu bidang penting dalam struktur perekonomian daerah.

Capaian tersebut perlu diikuti dengan upaya memperluas manfaat pertumbuhan bagi masyarakat. Potensi pertanian, perikanan, dan pariwisata akan memberikan dampak lebih besar apabila terhubung dengan pengolahan hasil produksi, industri rumah tangga, pemasaran yang lebih luas, serta penciptaan lapangan kerja. Di sinilah generasi muda, termasuk santri, dapat mengambil bagian melalui inovasi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Pandeglang juga memiliki peluang mengembangkan wisata berbasis alam, budaya, dan religi. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dan pesisir Pandeglang menjadi bagian dari kekayaan daerah yang dapat dikembangkan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Keterlibatan pesantren dalam pendidikan lingkungan, pembinaan masyarakat, dan pengembangan kegiatan ekonomi berbasis komunitas dapat memperkuat hubungan antara nilai keagamaan dan pembangunan berkelanjutan.

Namun, potensi tersebut membutuhkan ekosistem pendukung yang nyata. Santri perlu memperoleh akses terhadap pelatihan, pendampingan usaha, teknologi, pembiayaan yang sesuai, dan jaringan pemasaran. Pemerintah daerah juga perlu membuka ruang kolaborasi agar pesantren tidak berjalan sendiri dalam mengembangkan program pemberdayaan ekonomi.

Ketua Panitia Pelaksana HSN 2026 Kabupaten Pandeglang, M. Muamar, menyampaikan bahwa rangkaian peringatan telah berlangsung selama beberapa pekan. Selain upacara, panitia menggelar peluncuran kegiatan Hari Santri, istigasah, pawai taaruf yang melibatkan pondok pesantren dan pelajar MTs serta MAN, hingga tradisi murak liwet bersama di Pancaniti Alun-alun Pandeglang.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa Hari Santri juga menjadi ruang memperkuat kebersamaan masyarakat. Tantangan berikutnya ialah menerjemahkan semangat kebersamaan itu ke dalam kerja nyata yang berkelanjutan, termasuk memperluas kesempatan belajar, berusaha, dan berkarya bagi generasi muda.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan peringatan Hari Santri bukan semata-mata kemeriahan upacara atau banyaknya peserta yang hadir. Keberhasilan itu akan lebih terasa ketika santri mampu menjaga tradisi keilmuan sekaligus menjawab persoalan masyarakat, menciptakan inovasi, dan berkontribusi terhadap kemajuan daerah.

Pandeglang memiliki sumber daya alam, kekayaan budaya, dan tradisi pesantren yang kuat. Jika ketiganya terhubung melalui pendidikan, kewirausahaan, dan kolaborasi, santri berpeluang menjadi bagian penting dari perubahan daerah. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com