Beritabanten.com – Pernyataan bahwa Joko Widodo (Jokowi) tidak mungkin menjadi Gubernur DKI Jakarta tanpa bantuan Prabowo Subianto memiliki dasar sejarah politik, tetapi perlu ditempatkan secara proporsional. Prabowo memang memainkan peran penting dalam perjalanan Jokowi menuju kursi Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Namun, mengatakan kemenangan Jokowi sepenuhnya merupakan jasa Prabowo juga merupakan penyederhanaan sejarah.
Awal mula pencalonan Jokowi
Pada 2012, Jokowi bukanlah tokoh yang muncul tanpa rekam jejak. Ia sudah menjabat Wali Kota Solo selama dua periode dan dikenal melalui sejumlah kebijakan penataan kota, relokasi pedagang, serta pendekatan kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat.
Saat itu, Prabowo Subianto yang menjabat Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra justru menjadi salah satu tokoh yang mendorong Jokowi maju dalam Pilkada DKI Jakarta. Pada 15 Maret 2012, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani mengungkapkan bahwa Prabowo menginginkan Jokowi menjadi calon gubernur DKI dan sedang menjalin komunikasi intensif dengan PDIP. detiknews
Koalisi PDIP dan Gerindra menjadi pintu pencalonan
Pada 18 Maret 2012, PDIP dan Gerindra resmi berkoalisi mengusung Jokowi sebagai calon gubernur. Saat itu PDIP memiliki 11 kursi di DPRD DKI Jakarta, sedangkan Gerindra memiliki enam kursi. Total 17 kursi tersebut memenuhi persyaratan minimal 15 kursi untuk mengajukan pasangan calon.
Peran Prabowo semakin terlihat ketika Gerindra mengusulkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon wakil gubernur pendamping Jokowi. Bahkan, Ahmad Muzani mengungkapkan bahwa Prabowo, Jokowi, dan Ahok sempat bertemu selama sekitar 2,5 jam untuk membicarakan pasangan tersebut. Dengan demikian, Prabowo bukan hanya memberikan dukungan politik, tetapi juga ikut menentukan konfigurasi pasangan yang maju dalam Pilkada DKI 2012. detiknews +2
Pertarungan melawan Fauzi Bowo
Pilkada DKI 2012 berlangsung dalam dua putaran. Pada putaran pertama, 11 Juli 2012, Jokowi-Ahok memperoleh sekitar 42,60 persen suara, mengungguli pasangan petahana Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli yang memperoleh sekitar 34,05 persen.
Pada putaran kedua, 20 September 2012, Jokowi-Ahok kembali unggul dengan 53,82 persen suara atau 2.472.130 suara. Sementara Fauzi Bowo-Nachrowi memperoleh 46,18 persen atau 2.120.815 suara. Kemenangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari dukungan partai, kerja relawan, dan mobilisasi politik di tengah masyarakat Jakarta. ANTARA News +2
Klaim Prabowo soal dana Rp60 miliar
Pada 2014, Prabowo pernah mengungkapkan bahwa dirinya menggelontorkan Rp60 miliar untuk membantu kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI 2012. Prabowo juga mengaku ikut meyakinkan Megawati Soekarnoputri agar memberikan kesempatan kepada Jokowi maju di Jakarta.
Namun, Jokowi membantah klaim pengeluaran Rp60 miliar tersebut. Ahok juga sebelumnya menyampaikan bahwa biaya Pilkada mereka hanya belasan miliar rupiah. Perbedaan pernyataan ini penting dicatat agar sejarah tidak hanya dibangun berdasarkan satu versi cerita. detikPemilu
Jadi, siapa sebenarnya yang membuat Jokowi menang?
Dalam analisis politik, kemenangan Jokowi-Ahok merupakan hasil pertemuan beberapa kekuatan. Pertama, Prabowo dan Gerindra menyediakan dukungan politik serta jalur pencalonan. Kedua, Megawati dan PDIP memberikan legitimasi serta kekuatan organisasi partai. Ketiga, Jokowi membawa modal popularitas dan pengalaman kepemimpinan dari Solo. Keempat, Ahok menjadi pasangan yang ikut memperkuat konfigurasi politik mereka. Kelima, relawan dan dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam memenangkan pertarungan elektoral.
Kesimpulan Indo Politika
Pernyataan bahwa Prabowo berjasa mengantarkan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta memang memiliki landasan sejarah. Tanpa koalisi Gerindra dan PDIP, pencalonan Jokowi-Ahok pada 2012 tidak akan berlangsung dalam konfigurasi politik yang sama. Bahkan, Prabowo merupakan salah satu tokoh yang sejak awal mendorong Jokowi maju ke Jakarta.
Tetapi, apakah berarti Jokowi tidak mungkin menjadi gubernur tanpa Prabowo? Itu merupakan klaim kontrafaktual yang tidak bisa dibuktikan secara pasti. Jokowi juga memiliki dukungan PDIP, rekam jejak di Solo, popularitas, dan kekuatan relawan.
Pada akhirnya, sejarah politik harus ditempatkan secara adil. Prabowo memiliki kontribusi penting dalam perjalanan politik Jokowi menuju Balai Kota. Namun, kemenangan tetap merupakan hasil kerja bersama dan pilihan jutaan pemilih Jakarta.
Prabowo punya jasa politik, Jokowi punya modal elektoral. Keduanya merupakan bagian dari sejarah Pilkada DKI 2012. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan