Beritabanten.com – Bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, hujan deras bukan sekadar perubahan cuaca. Ada kekhawatiran yang kerap muncul setiap langit mulai gelap: apakah air akan kembali meluap, apakah jalanan bakal terendam, dan apakah aktivitas sehari-hari kembali terganggu?
Kekhawatiran itulah yang membuat upaya penanganan banjir menjadi pekerjaan penting bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Pada 2026, pemerintah kota menggarap 17 proyek penanganan banjir yang tersebar di sejumlah kecamatan, dengan harapan mampu mengurangi risiko genangan dan memperbaiki sistem pengendalian air di kawasan perkotaan.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Pondok Aren. Di kawasan ini, tiga proyek penanganan banjir tengah dikerjakan sebagai bagian dari upaya memperkuat infrastruktur pengendalian air.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, pengerjaan proyek-proyek tersebut ditargetkan selesai sesuai jadwal kontrak pada akhir 2026. Bahkan, sejumlah pekerjaan diharapkan dapat rampung lebih cepat.

“Target selesai ya di akhir tahun ini semua sudah selesai, kalau kontraknya ya. Tapi saya rasa di bulan November ini juga sudah selesai semua,” ujar Pilar saat meninjau kawasan Pondok Aren, Kamis (8/10/2026).

Pondok Aren Jadi Salah Satu Titik Perhatian

Di Pondok Aren, pekerjaan penanganan banjir tidak hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga upaya memperkuat infrastruktur agar mampu menunjang pengendalian air.

Tiga proyek yang dikerjakan di wilayah tersebut antara lain penggantian turap batu kali menjadi turap beton serta penambahan dua unit pompa.

Penggantian turap diharapkan dapat memperkuat struktur penahan aliran air, sementara penambahan pompa ditujukan untuk mendukung proses pembuangan air ketika debit meningkat. Efektivitasnya tentu bergantung pada kondisi saluran, kapasitas pompa, serta sistem drainase yang terhubung.

Bagi kawasan perkotaan seperti Tangsel, pembangunan infrastruktur semacam ini menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan banjir. Pertumbuhan kawasan permukiman dan aktivitas perkotaan menuntut sistem drainase serta pengendalian air yang mampu bekerja secara optimal.

Namun, pembangunan infrastruktur tidak cukup berhenti pada selesainya pekerjaan konstruksi. Fungsi fasilitas, pemeliharaan berkala, dan keterhubungan antarsaluran juga menjadi faktor yang menentukan apakah upaya penanganan banjir dapat berjalan efektif.

Sebanyak 17 Proyek Dikebut Sepanjang 2026

Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Tangsel Robbi Cahyadi mengatakan, pemerintah daerah menyiapkan sekitar 17 lokasi penanganan banjir sepanjang 2026.

“Kurang lebih 17 titik, 17 lokasi 2026,” kata Robbi.

Menurutnya, seluruh proyek tersebut masih dalam proses pengerjaan. Penyelesaian masing-masing lokasi menyesuaikan jenis pekerjaan dan jadwal yang tercantum dalam kontrak.

“On progress, semua on progress. Berjalan seperti ini kurang lebih,” ujarnya.

Pengerjaan yang tersebar di berbagai kecamatan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah untuk menangani persoalan banjir melalui pembangunan infrastruktur. Setiap lokasi memiliki kebutuhan berbeda, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kondisi saluran air.

Target penyelesaian proyek pada akhir tahun menjadi salah satu tahapan penting. Setelah pekerjaan rampung, fungsi setiap infrastruktur perlu dipastikan agar dapat mendukung pengendalian air, terutama ketika curah hujan meningkat.

Pekerjaan Belum Berakhir Saat Proyek Rampung

Di balik pembangunan turap, penambahan pompa, dan berbagai pekerjaan teknis lainnya, tantangan penanganan banjir tetap membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Infrastruktur yang memadai perlu berjalan beriringan dengan pemeliharaan saluran, pengelolaan sampah, serta kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Saluran air yang tersumbat dapat menghambat aliran dan mengurangi efektivitas sistem drainase.

Karena itu, keberhasilan penanganan banjir tidak semata-mata diukur dari jumlah proyek yang dibangun atau seberapa cepat pekerjaan diselesaikan. Hasilnya juga perlu dilihat dari kemampuan infrastruktur berfungsi saat hujan deras, berkurangnya titik genangan, serta dampaknya terhadap aktivitas masyarakat.

Bagi warga di kawasan rawan banjir, hasil nyata menjadi hal yang paling dinantikan. Jalan yang tetap dapat dilalui, rumah yang terlindungi dari luapan air, dan aktivitas ekonomi yang tidak terganggu merupakan manfaat yang diharapkan dari pembangunan tersebut.

Pemkot Tangsel melalui SDABMBK kini masih mengejar penyelesaian 17 proyek penanganan banjir yang telah direncanakan. Pekerjaan di Pondok Aren menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut, dengan target penyelesaian mengikuti jadwal kontrak masing-masing.

Pada akhirnya, harapan warga bukan sekadar melihat proyek selesai dibangun. Lebih dari itu, mereka menantikan infrastruktur yang benar-benar berfungsi dan mampu mengurangi risiko banjir ketika hujan kembali mengguyur Tangsel.

Sebab, bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan ancaman banjir, keberhasilan pembangunan bukan hanya terlihat dari beton yang berdiri atau pompa yang terpasang, melainkan dari rasa aman yang dapat dirasakan ketika musim hujan tiba. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com