Beritabanten.com – Perhatian pertama yang perlu dibedah adalah riset tim Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berjudul SMART School Nutrition: Evaluasi Plate Waste pada Program Makan Bergizi Gratis di Kota Gorontalo dalam Mendukung Green Economy. Penelitian yang dilaksanakan pada 2025 ini melibatkan 150 siswa dan menggunakan metode penimbangan langsung untuk mengukur makanan yang disajikan serta makanan yang benar-benar dikonsumsi. Hasilnya, rata-rata makanan yang disajikan mencapai 391,9 gram per siswa, tetapi yang benar-benar dimakan hanya 187,8 gram. Artinya, terdapat selisih sekitar 204,1 gram per porsi. Jika dibandingkan dengan berat makanan yang disajikan, sekitar 52,1 persen berat makanan tidak masuk ke tubuh siswa, sedangkan yang dikonsumsi sekitar 47,9 persen. Angka ini merupakan temuan pada sampel dan lokasi penelitian tersebut, bukan bukti bahwa separuh makanan MBG secara nasional selalu terbuang. lppm.ung.ac.id
Temuan ini penting karena tujuan MBG bukan sekadar mengantarkan makanan ke sekolah, melainkan memperbaiki asupan gizi anak. Ketika sekitar 204,1 gram makanan tersisa dari rata-rata porsi yang diteliti, sebagian potensi zat gizi dalam makanan tersebut tidak diterima siswa. Namun, kerugian gizi tidak bisa dihitung hanya dari berat makanan yang tersisa. Kandungan energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral bergantung pada komposisi makanan yang tidak dihabiskan. Penelitian UNG juga menemukan bahwa sayuran merupakan komponen yang paling banyak tersisa, sementara nasi, lauk-pauk, dan buah cenderung lebih diminati. Ini berarti evaluasi harus dilakukan per komponen menu: berapa gram sayuran yang tersisa, berapa protein dari lauk yang tidak dikonsumsi, serta berapa kalori dan zat gizi lain yang akhirnya tidak termanfaatkan. Tanpa data komposisi menu dan penimbangan sisa per jenis makanan, angka kehilangan gizi secara pasti belum dapat ditetapkan.
Dari sisi keuangan, persoalannya adalah berapa rupiah dari anggaran penyediaan makanan yang tidak menghasilkan manfaat konsumsi sebagaimana diharapkan. Penelitian UNG tersebut tidak memberikan angka kerugian nasional dalam rupiah, sehingga tidak tepat menyatakan bahwa hasil riset itu membuktikan kerugian negara sebesar nominal tertentu. Sebagai ilustrasi matematis saja, apabila biaya bahan makanan per porsi diasumsikan Rp10.000 dan proporsi biaya yang terbuang benar-benar sebanding dengan persentase berat makanan tersisa, nilai yang tidak termanfaatkan akan sekitar Rp5.210 per porsi. Namun, ini bukan hasil perhitungan peneliti UNG: biaya setiap komponen berbeda, dan makanan tersisa tidak selalu memiliki nilai ekonomi yang sama dengan proporsi beratnya. Untuk menghitung kerugian yang lebih akurat, pemerintah harus membuka data biaya bahan makanan, jumlah porsi, berat sisa, serta komposisi menu yang terbuang.
Di sinilah BGN perlu menjadikan temuan penelitian seperti ini sebagai dasar evaluasi operasional. Pertama, lakukan penimbangan berkala di sekolah-sekolah dengan sampel yang mewakili berbagai wilayah dan jenjang pendidikan. Kedua, hitung kandungan gizi makanan yang tersisa agar dapat diketahui berapa energi dan zat gizi yang gagal dikonsumsi. Ketiga, hitung nilai ekonomi sisa makanan berdasarkan biaya aktual tiap komponen menu, bukan dengan menganggap seluruh berat makanan memiliki harga yang sama. Keempat, gunakan hasilnya untuk memperbaiki rasa, tekstur, variasi menu, ukuran porsi, dan waktu distribusi. Kesimpulan dari riset UNG bukan bahwa seluruh program MBG merugi 52,1 persen, melainkan bahwa pada sampel yang diteliti, lebih dari separuh berat makanan yang disajikan tidak dikonsumsi. Itu merupakan sinyal kuat bahwa keberhasilan program harus dinilai dari makanan yang benar-benar dimakan dan manfaat gizinya, bukan semata-mata jumlah porsi yang dibagikan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan