Beritabanten.com – Di tengah padatnya Jakarta Pusat, ada sebuah ruang yang seolah mengajak siapa pun memperlambat langkah. Pepohonan rindang, hamparan rumput, kolam renang yang luas, jalur untuk berolahraga, serta bunga-bunga yang bermekaran menjadi pemandangan yang tidak selalu mudah ditemukan di tengah kota.

Ruang hijau itu berada di kawasan Hotel Borobudur Jakarta, hotel yang berdiri di Jalan Lapangan Banteng Selatan dan telah menjadi bagian dari perjalanan Jakarta selama lebih dari lima dekade.

Kamis (24/9/2026), salah satu sudut tamannya tampak semarak oleh bunga berwarna kuning. Bunga terompet kuning atau Tecoma stans tumbuh rimbun di antara pepohonan. Warna kuningnya mencolok ketika terkena cahaya matahari, kontras dengan hamparan hijau di sekitarnya.

Dua pengunjung terlihat duduk santai di bangku taman. Tidak jauh dari sana, jalur olahraga membelah kawasan hijau tersebut. Pemandangan itu memperlihatkan sisi lain sebuah hotel yang selama ini lebih sering dikenal karena bangunan megah, kamar, restoran dan berbagai kegiatan pertemuan.

Hotel Borobudur memang memiliki karakter yang berbeda. Berdasarkan data PT Jakarta International Hotels & Development Tbk (JIHD), hotel ini berada dalam kawasan kebun tropis yang luasnya sekitar 23 hektare, dengan bangunan hotel berdiri di atas lahan 89.510 meter persegi. Hotel tersebut memiliki 695 kamar dan dilengkapi Garden Wing dengan 140 unit apartemen servis.

Karena itu, taman bukan sekadar pelengkap. Lanskap hijau menjadi bagian dari identitas Hotel Borobudur Jakarta. Perpaduan antara bangunan hotel dan ruang terbuka membuat suasananya terasa berbeda dari banyak hotel perkotaan yang berdiri di tengah kepadatan gedung.

Melanair laman resmi Jakarta Hotels & Development, dijelaskan terdapat jejak panjang hotel ini bermula pada 1963 ketika proyek yang saat itu dikenal sebagai Proyek Hotel Banteng mulai dibangun. Pembangunannya sempat mengalami hambatan dan kemudian dilanjutkan hingga akhirnya Hotel Borobudur Inter-Continental resmi dibuka pada 23 Maret 1974. Peresmian tersebut dilakukan oleh Presiden Soeharto. Tidak lama kemudian, hotel ini menjadi lokasi Konferensi Pacific Area Travel Association (PATA) pada 1–4 April 1974 yang dihadiri sekitar 1.500 peserta dari 39 negara.

Pada awal kehadirannya, Hotel Borobudur menjadi salah satu simbol berkembangnya Jakarta sebagai kota dengan fasilitas perhotelan bertaraf internasional. Pada 1981, hotel tersebut ditetapkan sebagai hotel bintang lima oleh Direktorat Jenderal Pariwisata. Lima tahun kemudian, Garden Wing dengan 140 suite diresmikan sebagai fasilitas tambahan.

Perjalanan hotel tersebut tidak berhenti pada bangunan yang pertama kali berdiri pada era 1970-an. Pada 1995, Hotel Borobudur menjalani renovasi besar pada bagian eksterior dan interior. Operasional hotel utama dihentikan selama sekitar dua tahun, sementara Garden Wing tetap beroperasi. Setelah renovasi selesai, hotel kembali diresmikan pada 11 November 1997.

Sejak 1 Januari 1999, nama Hotel Borobudur Inter-Continental berubah menjadi Hotel Borobudur Jakarta. Perubahan nama tersebut menandai babak baru dalam perjalanan hotel yang tetap mempertahankan lokasi, karakter dan fasilitas utamanya di kawasan Lapangan Banteng.

Kini, puluhan tahun setelah pertama kali dibuka, hotel tersebut masih menawarkan kombinasi antara akomodasi, ruang pertemuan, kuliner dan fasilitas rekreasi. Kolam renang berukuran Olimpiade menjadi salah satu fasilitas yang menonjol. Di sekelilingnya terdapat area taman yang luas sehingga aktivitas berenang terasa menyatu dengan lanskap hijau.

Bagi mereka yang ingin tetap aktif selama menginap, kawasan hotel juga menyediakan fasilitas olahraga. Lapangan tenis, jalur jogging, pusat kebugaran, serta fasilitas olahraga lainnya menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada tamu. Data JIHD menyebut hotel ini memiliki delapan lapangan tenis dan kolam renang berukuran Olimpiade.

Tidak hanya olahraga, kawasan hotel juga memiliki ruang rekreasi yang dirancang untuk keluarga. Terdapat taman bermain anak, butterfly dome, rabbit house, miniatur Candi Borobudur dan sejumlah area hijau yang dapat dinikmati pengunjung.

Kehadiran fasilitas tersebut membuat pengalaman menginap di Hotel Borobudur tidak semata-mata berlangsung di dalam kamar. Tamu dapat berjalan menyusuri taman, berolahraga, berenang, menikmati makanan di area poolside, atau sekadar duduk di ruang terbuka sambil menikmati suasana hijau.

Bahkan, Pendopo Terrace menawarkan pemandangan ke arah kolam renang dan miniatur Borobudur yang dikelilingi pepohonan serta taman. Sementara Singosari Garden and Poolside Restaurant berada di area luar hotel dengan panorama kolam renang dan taman.

Karakter seperti inilah yang membuat Hotel Borobudur tetap memiliki daya tarik bagi tamu domestik maupun mancanegara. Lokasinya berada di pusat Jakarta, dekat kawasan pemerintahan, pusat bisnis dan sejumlah destinasi kota, tetapi ketika memasuki area tamannya, suasana perkotaan terasa sedikit menjauh.

Kesan tersebut juga tercermin dalam pengalaman tamu yang masih datang hingga kini. Data pemesanan hotel yang diperbarui pada 2026 menunjukkan fasilitas taman, kolam renang luar ruang, pusat kebugaran dan lapangan tenis masih menjadi bagian dari layanan hotel.

Ada sesuatu yang menarik dari cara Hotel Borobudur mempertahankan ruang hijaunya. Di saat lahan di Jakarta semakin bernilai dan bangunan terus tumbuh, kawasan hotel ini justru masih menyisakan ruang yang cukup lapang bagi pepohonan, bunga dan aktivitas luar ruang.

Bunga terompet kuning yang terlihat pada Kamis siang itu mungkin hanya satu bagian kecil dari taman yang luas. Namun, dari bunga tersebut terlihat bagaimana sebuah hotel tua masih berusaha mempertahankan wajah hijaunya.

Hotel Borobudur Jakarta pada akhirnya bukan hanya cerita tentang bangunan yang dibuka pada 1974 atau renovasi besar yang selesai pada 1997. Ia juga tentang sebuah taman yang terus hidup, menjadi ruang bagi tamu untuk beristirahat, berolahraga dan menikmati suasana Jakarta dari sisi yang lebih tenang.

Di kota yang bergerak nyaris tanpa jeda, taman seperti itu menjadi kemewahan tersendiri. Bukan karena kemegahannya, melainkan karena kemampuannya menghadirkan sepotong suasana hijau di tengah ibu kota. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com