Beritabanten.com – Ada kabar yang terasa sederhana dari pasar-pasar tradisional di Kabupaten Lebak. Harga cabai dan bawang turun dalam sepekan terakhir. Bagi sebagian orang, penurunan beberapa ribu rupiah mungkin bukan perkara besar. Namun bagi pedagang kecil yang setiap hari bergulat dengan harga bahan pokok, kabar itu bisa berarti napas yang sedikit lebih panjang.

Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap harga kebutuhan pokok, pasokan cabai dan bawang di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Lebak justru melimpah. Kondisi tersebut terjadi seiring masuknya musim panen di berbagai sentra penghasil komoditas tersebut.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Yani, mengatakan melimpahnya pasokan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga cabai dan bawang turun.

“Sekarang di berbagai sentra penghasil cabai dan bawang memasuki musim panen, sehingga persediaan dan pasokan melimpah,” kata Yani di Lebak, Kamis, 20 Agustus 2026.

Berdasarkan pantauan Disperindag Kabupaten Lebak, harga cabai merah keriting kini berada di kisaran Rp42.000 per kilogram, turun dari sebelumnya Rp45.000 per kilogram.

Cabai merah besar juga mengalami penurunan. Komoditas tersebut kini dijual sekitar Rp46.600 per kilogram dari sebelumnya Rp51.500 per kilogram.

Penurunan juga terjadi pada cabai rawit hijau yang kini berada di angka Rp46.300 per kilogram dari sebelumnya Rp47.500 per kilogram. Sementara cabai merah turun menjadi Rp55.000 per kilogram dari sebelumnya Rp58.200 per kilogram.

Tidak hanya cabai. Harga bawang merah juga ikut melandai dari Rp34.200 menjadi Rp30.000 per kilogram. Sedangkan bawang putih turun dari Rp38.500 menjadi sekitar Rp36.500 per kilogram.

Bagi konsumen, angka-angka tersebut mungkin hanya terlihat sebagai catatan harga di pasar. Namun bagi pedagang makanan yang setiap hari membutuhkan cabai, bawang, minyak, beras dan berbagai kebutuhan lainnya, perubahan harga memiliki arti langsung terhadap biaya produksi.

Mulyanto, seorang pedagang nasi warteg di Rangkasbitung, mengaku lega melihat harga sejumlah bahan pokok tetap terkendali.

“Sebagai pedagang nasi warteg merasa lega harga bahan pokok masih stabil dan pasokan melimpah, sehingga berdampak omzet relatif normal,” ujarnya.

Di balik warteg yang tetap mengepul setiap pagi, ada perhitungan yang tidak pernah berhenti. Harga beras dihitung, minyak ditakar, cabai ditimbang, bawang dibeli, sementara harga sepiring nasi harus tetap terjangkau oleh pelanggan.

Ketika bahan baku naik, pedagang berada di persimpangan sulit: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pelanggan, atau mempertahankan harga dengan keuntungan yang semakin tipis.

Karena itu, ketika harga cabai dan bawang turun, sedikit ruang bernapas kembali terbuka.

Sementara itu, Disperindag Kabupaten Lebak mencatat sejumlah kebutuhan pokok lainnya relatif stabil. Harga beras medium KW 1 berada di kisaran Rp13.500 per kilogram, beras medium KW 2 Rp12.800 per kilogram, dan beras medium KW 3 sekitar Rp11.900 per kilogram.

Harga daging unggas tercatat Rp40.000 per kilogram, telur Rp23.000 per kilogram, daging sapi Rp143.000 per kilogram, dan daging kerbau Rp145.000 per kilogram.

Untuk minyak goreng, minyak premium berada di kisaran Rp22.100 per kemasan, Minyakita Rp18.400 per kemasan, sedangkan minyak tanpa merek sekitar Rp19.800 per kemasan.

Komoditas lainnya juga masih berada dalam kondisi relatif stabil. Gula pasir lokal sekitar Rp18.600 per kilogram, tepung terigu Rp12.700 per kilogram, susu Cap Bendera Rp12.000 per kemasan 370 gram, Indomilk Rp13.000 per 370 gram, susu bubuk SGM Rp41.000 per 400 gram, dan Dancow sekitar Rp49.500 per 350 gram.

“Kita mengapresiasi sejumlah bahan pokok relatif stabil dan tidak terjadi kenaikan signifikan,” kata Yani.

Stabilitas tersebut menjadi penting karena harga pangan bukan sekadar angka di papan informasi pasar. Ia berhubungan langsung dengan dapur rumah tangga, pendapatan pedagang kecil, hingga kemampuan masyarakat menjaga konsumsi sehari-hari.

Untuk saat ini, musim panen memberikan kabar baik bagi masyarakat Lebak. Pasokan yang melimpah membuat harga sejumlah komoditas turun dan membantu menjaga daya beli.

Namun, harga pangan tetap memiliki sifat yang mudah berubah. Ketika musim panen berakhir dan pasokan berkurang, harga bisa kembali bergerak.

Karena itu, menjaga kelancaran distribusi dari sentra produksi hingga pasar menjadi pekerjaan yang tidak kalah penting. Panen yang melimpah harus bisa sampai ke tangan konsumen dengan biaya distribusi yang terkendali.

Bagi Mulyanto dan pedagang kecil lainnya, harapannya sederhana: harga bahan pokok tetap stabil, pasokan tidak tersendat, dan pelanggan tetap mampu membeli makanan dengan harga yang terjangkau.

Sebab di pasar tradisional, turunnya harga cabai dan bawang bukan hanya kabar tentang komoditas.

Ia adalah kabar tentang dapur yang tetap menyala, warteg yang tetap buka, pedagang yang masih bisa tersenyum, dan keluarga yang sedikit lebih tenang ketika menghitung uang belanja hari ini. (Red)

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com