Beritabanten.com – Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul saat proses rekrutmen kerja dan kerap membuat lulusan baru terdiam. “Berapa tahun pengalaman kerja?”
Bagi perusahaan, pertanyaan itu mungkin terdengar biasa. Namun, bagi banyak fresh graduate, pertanyaan tersebut justru menjadi ironi. Setelah menempuh pendidikan selama belasan tahun dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, mereka mendapati bahwa ijazah saja belum cukup untuk membuka pintu pekerjaan pertama.
Seharusnya, lowongan tingkat pemula menjadi ruang bagi lulusan baru memulai karier. Kenyataannya, tidak sedikit posisi berlabel entry level tetap mensyaratkan pengalaman kerja satu hingga dua tahun. Di titik inilah paradoks muncul. Untuk memperoleh pekerjaan dibutuhkan pengalaman, tetapi untuk mendapatkan pengalaman seseorang harus lebih dulu diterima bekerja.
Kondisi itu membuat mahasiswa merasa tidak cukup hanya menyelesaikan kuliah. Mereka berlomba mengikuti program magang, aktif di organisasi, mengambil pelatihan, mengantongi sertifikasi, hingga mengerjakan berbagai proyek mandiri agar riwayat hidup tidak tampak kosong. Beragam aktivitas tersebut memang dapat memperkaya kemampuan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa beban menjadi “siap kerja” semakin banyak dipikul oleh pencari kerja.
Di sisi lain, perusahaan tentu memiliki pertimbangannya sendiri. Merekrut dan membina karyawan baru membutuhkan waktu, biaya, serta proses adaptasi. Kandidat yang sudah berpengalaman dianggap lebih cepat bekerja dan memiliki risiko lebih kecil. Persoalannya, jika semua perusahaan hanya ingin merekrut tenaga yang sudah siap pakai, siapa yang akan memberikan kesempatan pertama bagi mereka yang baru memulai?
Paradoks itu menjadi salah satu alasan mengapa banyak lulusan muda kesulitan menembus pasar kerja. Bukan karena tidak ingin bekerja, melainkan karena mereka menghadapi syarat yang sulit dipenuhi sejak awal. Kesempatan pertama pun berubah menjadi hal yang paling mahal dalam perjalanan membangun karier.
Ironi belum berhenti di situ. Ketika terlalu lama belum mendapatkan pekerjaan, pelamar justru kembali dipertanyakan karena memiliki jeda dalam riwayat hidup. Terlalu muda dianggap belum berpengalaman, sementara terlalu lama menganggur dinilai sebagai tanda yang patut dicurigai. Akibatnya, banyak anak muda diminta membuktikan kemampuan mereka dalam sistem yang belum memberi ruang untuk membuktikan apa pun.
Tentu, perguruan tinggi perlu semakin mendekatkan kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa juga perlu membangun keterampilan sejak masih berada di bangku kuliah. Namun, perusahaan pun perlu mengembalikan makna posisi pemula sebagai ruang belajar dan bertumbuh, bukan sekadar cara mendapatkan tenaga kerja berpengalaman dengan biaya lebih rendah.
Sebab setiap pekerja profesional pernah menjadi orang baru yang belum memiliki pengalaman. Mereka berkembang karena pernah diberi kesempatan pertama. Jika kesempatan itu semakin langka, jangan heran apabila semakin banyak lulusan berdiri di depan pintu dunia kerja sambil membawa ijazah dan pertanyaan yang sama: jika semua mencari yang sudah berpengalaman, dari mana pengalaman pertama itu seharusnya diperoleh? (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan